Laut Ujung Senja: Bab III (Berlian Pudar)

6:38 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

Kapal bertipe mine sweeper ini sudah menjadi rumah terapungku selama 6 bulan terakhir. Sebelumnya aku ditempatkan di kapal perang berjenis LPD (Landing platform Dock) dengan kode seri kapal 590. Kapal ini sering digunakan oleh Bapak Presiden Susilo bambang Yudhoyono ketika akan melakukan perjalanan lewat laut. KRI 590 memiliki banyak ruang kamar dan sistem permesinan yang lebih rumit juga kompleks. KRI Makassar adalah tipe kapal yang memiliki fungsi sebagai pengangkut armada dan kapal inilah jenis pertama yang di aktifkan sebagai kapal tugas dengan sistem docking yang dapat menyimpan 2 kapal kecil sejenis patroli pendukung di lambung dasar atau tank deck.
Sistem mekanik yang lebih rumit juga ada di tank deck, saat pertama naik kapal itu aku mencoba masuk ke dalamnya. Bertanya-tanya pada operator mesin mengenai tugas-tugas yang mereka lakukan dan bagaimana cara kerja mesin kapal militer yang besar seperti itu. Ada sebuah ruang kendali mesin yang mirip ruang operator pegawai PLN.
Didalamnya terdapat panel-panel yang dikendalikan dengan sistem komputerisasi yang terhubung pada satu layar LCD besar ditengah kumpulan panel-panel tersebut. Ketika Pak Bondan menjelaskan, meskipun tak memahami sepenuhnya karena permesinan bukan jurusanku sewaktu kuliah tapi setidaknya aku mengerti sedikit-sedikit.
Pasokan air dan listrik di didstribusikan ke seluruh bagian Kapal KRI Makassar 590 oleh tenaga solar sebagai bahan bakar. Di belakang meja kontrol ada sebuah peta jalur yang mendeskripsikan kemana saja aliran listrik ditujukan pada setiap bagian kapal.
Sementara didalam ruang kendali itu dingin dan ber-AC diluarnya hanya ada jembatan dari besi yang selebar bokong ibukku dikelilingi oleh mesin-mesin besar yang berderum-derum dengan suara kuat bahkan ketika memekik diruangan itupun tak ada yang bisa mendengar suaramu. Dari semua penjelasan rumit Pak Bondan, yang kutahu jangan coba-coba berbuat sesuatu yang mengganggu jalur pembuangan limbah air di kapal karena itu akan menyusahkan orang bagian permesinan yang harus mematikan seluruh mesin yang sedang bekerja di kapal, begitu pesan mereka padaku.
Setelah hampir setahun hidup nyaman di atas kapal besar itu aku di pindah tugaskan ke kapal lainnya. Masih Kapal Militer atau KRI yang bertugas mengamankan perairan. Tapi kapal selanjutnya ini tidak sama dengan KRI Makassar 590.  KRI Pulau Raas dengan nomor seri 722 memiliki tipe, bentuk, seri dan fungsi yang tidak sama dengan KRI 590.
Berbeda dengan kapal KRI Makassar 590 yang lebih luas berukuran tinggi 56 meter dengan deck berjulah 10 tingkat serta memiliki sebuah heli deck dan dapat mengangkut 2 buah LCVP. KRI Pulau Raas 722, kapalku berukuran jauh lebih kecil dengan luas lebih dari 56 x 7 x 2 meter. KRI Pulau Raas memiliki seri 722 yang artinya kapal yang berfungsi sebagai kapal persenjataan.
Meskipun lebih kecil, tapi tugas si cabe rawit ini juga tidak kalah mulia. Memastikan perairan Indonesia bebas dari ranjau laut yang dapat membahayakan kapal-kapal yang lalu lalang di perairan Indonesia dan mengintai apabila ada pesawat musuh mendekat dan berusaha menyerang. Hanya 30 orang beruntung dari seluruh penduduk Indonesia yang menaiki kapal luar biasa ini. Dan kapal-kapal sejenisnya.
Sayangnya kapal hebat ini bukan buatan baru dari pabrik alias secondhand yang dibeli Negara Indonesia pada tahun 1992 setelah berhenti di operasikan oleh Jerman Timur sejak Tahun 1973. Meskipun lawas, tak bisa dibohongi bahwa kekuatannya masih patut di acungi jempol. Meriam ganda yang berjumlah 3 buah masih dapat dioperasikan dengan baik. Mesin kapal yang menghasilkan 8,260  bhp kekuatan mampu mengarungi samudera hingga sejauh 28 batu nautika. Terkadang benar kata pepatah, mungkin sampah orang lain adalah harta karun bagi yang lainnya. Inilah harta negara yang patut kita jaga dengan sebaik-baiknya.

You Might Also Like

0 komentar: