Laut Ujung Senja: Bab II (Berlian Pudar)

6:36 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

Negeri-ku, yang seperti nyanyian teduh ibu pertiwi. Tanah airku amatlah subur yang kucinta sepanjang masa. Yang seperti lagu buaian Koes plus, bukan lautan bukan kolam susu kail dan jala ikut menghidupimu tiada ombak tiada badai kau temui ikan dan udang menghampiri dirimu. Bermanja-manja dan terlena dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, tapi bingung bagaimana cara mengolahnya.
Kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengurusi masalah pemberdayaan hasil-hasil kelautan.
Lihatlah negara luar yang bahkan tak memiliki laut seluas Indonesia. Belanda bahkan mengeringkan lautan untuk di jadikan daratan, tapi mereka menguasai hampir 5% hasil tangkapan laut dunia. Kapal-kapal canggih penangkap ikan miliki nelayan Jepang bahkan sampai ke Tanjung Benoa, Bali. Amerika menempuh badai di lautan samudera psifik yang maha luas untuk menangkap ikan dengan sistem penangkapan bersiklus yang disesuaikan dengan angin dan musim tangkapan.
Nelayan Indonesia hanya menggunakan kapal kayu berukuran 4-5 meter dengan mesih motor 4 tak hanya dapat berlayar sejauh 5 mil dari garis pantai. Nelayan Indonesia tak terbiasa menerjang angin badai di lautan lepas.
Mereka akan berhenti melaut pada saat angin muson utara dan kembali ke laut saat cuaca hangat. Ketika musim menangkap ikan dengan cuaca yang mendukung mereka menangkap ikan sebanyak-banyaknya hingga tak tahu harus di jual kemana saja dan berujung pada tengkulak-tengkulak yang mengumpulkan hasil tangkapan ikan dari nelayan. Bagaimanapun tengkulak tak bisa membeli terlalu tinggi pada nelayan karena mereka harus menjual lagi kepada pembeli di pasar.
Akhirnya, pada saat musim tak bisa melaut. Nelayan yang hanya memiliki mata pencarian tunggal menangkap ikan tak begitu banyak dapat bergantung pada hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Semuanya berujung pada meminjam modal untuk membeli bahan bakar pada sesi menangkap ikan selanjutnya. Inilah yang menjadi penyebab rendahnya kesejahteraan hidup masyarakat nelayan di Indonesia.
Kata kekasihku, yang ahli ilmu masyarakat. Ketika ia menjelaskan padaku kenapa Indonesia negara maritim tapi kehidupan masyarakat yang mencari makan dari hasil laut masih tetap tak berkecukupan.
Mungkin aku juga akan menjelaskan padanya tentang kenapa kita tak seharusnya menjaga laut jika ingin mengambil banyak manfaat darinya. Seperti kasus kapal yang membawa muatan coral  yang kami tangkap dua hari lalu. Benar dugaanku, mereka hanya dikenai sanksi atas pelanggaran hukum perdagangan lintas negara dan tidak membawa dokumen lengkap saat melewati perbatasan Indonesia.
“Maukah kau mengirimi foto pemandangan laut disana, sayangku?”
“Tak terlalu bagus. biasa saja. Airnya dangkal dan sedikit keruh. Nanti kukirimi jika aku sampai di Kendari. Kudengar lautnya sangat bersih kau pasti suka. Seperti di Labuhan Bajo.” Tadinya aku ingin mengirimi pacarku foto-foto pemandangan laut saat yang akan kuselipkan di surat saat kukirimkan padanya. Tapi lautan Ambalat tak begitu bagus. Sementara di Ambalat tidak ada pulau, hanya luas lautan biasa.
Tak ada kulihat nelayan yang berlalu-lalang mencari ikan di sekitar sini selama KRI Pulau Raas tiba. Laut yang menjadi bagian milik Negara Indonesia setelah bersengketa dengan Malaysia. Karena kedalamannya yang tak lebih dari 20 meter. Tapi aku belum pernah melihat langsung bagian wilayah perairan di sekitar Simpadan dan Ligitan, katanya sangat indah.
Wajar saja didirikan dua buah resort besar oleh pengusaha swasta Malaysia yang menyewa kepada negaranya. Kekayaan alam yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh sumber daya manusia berkompeten. Tetapi kekayaan alamnya kembali kepada negaranya, Malaysia adalah contoh negara berkembang yang memperhatikan pentingnya keseimbangan lingkungan..

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg

You Might Also Like

0 komentar: