Laut Ujung Senja: Bab I (Berlian Pudar)

6:35 PM Lovely Bunny 001 0 Comments


C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-3.jpeg

BERLIAN PUDAR
Masih menjaga keamanan wilayah perbatasan di Ambang Batas Laut, Blok Laut perbatasan Indonesia-Malaysia. Mengawasi lalu lintas kapal-kapal yang masuk dan keluar dari perairan Indonesia. Mencari-cari dan waspada kalau-kalau ada kapal asing yang mencurigakan dan melakukan pelanggaran dan bersiap menerjunkan tim pemeriksa untuk mendekati kapal.
Dari ruang kemudi aku memperhatikan dengan sebuah teropong berukuran sedang yang biasa digunakan untuk mengawasi dari jauh gerak-gerik kapal yang sedang berlayar dan keadaan laut sekitar.
Dari jenis pelanggaran yang sering kutemui selama bertugas disini adalah kapal-kapal asing yang memasuki perbatasan Indonesia tetapi tidak membawa surat ijin dan dokumen barang atau kapal yang bermasalah dan tidak lengkap. Dan ada juga kapal nelayan Indonesia yang minim teknologi sehingga tidak bisa mengetahui garis batas wilayah.
Masih mengawasi perairan sekitar, tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Lalu aku melepaskan pandangan dari teropong dan bersandar sejenak di meja kendali. Memutar leher setengah lingkaran sambil mengangkat tangan setengah bahu, meregangkan otot-otot yang pegal karena  berdiri hampir tiga jam mengawasi di ruang kemudi.
Cuaca tering dengan udara panas menyengat dan tambahan tak ada yang dapat kukerjakan selain berdiri disitu, didepan panel kontrol mesin kemudi kapal. Menemani kapten.
Kering sekali terasa tenggorokan kemudian kubasahi dengan air ludah yang masih tersisa di tenggorokan. “Aku ingin kebawah sebentar mengambil minum. Tolong awasi!” pintaku pada seorang junior yang sedari tadi memerhatikan radar di meja kendali kapal. Ia mengangguk dan akupun melangkah menuju tangga untuk keluar menuruni ruang kemudi.
Belum sampai lima anak tangga kudengar ia memanggil namaku kembali, “Lettu Danu, ada kapal mendekati perbatasan.” lapornya. Aku membalikkan badan dan mengurungkan niat mengambil air minum. Ia menunjukkan ada sinyal gelombang radio kapal yang tertangkap radar mendekati wilayah perbatasan.
Lalu memasang frekuensi radio untuk menyambungkan komunikasi dengan kapal tersebut dan menanyakan perihal informasi dan keperluan kapal menyeberang dari wilayah perbatasan NKRI. Lama menunggu sekitar sepuluh menit, tak ada respon balik.
Karena tak menanggapi sinyal radio yang kami kirimkan ku laporkan pada kapten bahwa kapal tersebut layak untuk lakukan inspeksi.
Kemudian diturunkan perintah untuk mendekati kapal dengan menurunkan tim pemeriksa dengan menggunakan sebuah perahu karet. Aku diikutkan kedalam tim yang dipimpin oleh Mayor Laut Taufik Akbar, seniorku. Perahu karet melaju mencari keberadaan sinyal kapal yang tertangkap oleh radar KRI Pulau Raas.
Sebuah Kapal Layar Motor berwarna dominasi merah kecoklatan dari ada garis putih sedang mendekati wilayah perbatasan, berbendera Indonesia. Sedang berlayar mendekati wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tetapi terlihat mencurigakan.
Sepertinya inilah kapal yang tertangkap oleh radar kami dan tak menjawab sinyal radio yang kami kirimkan. Seorang ABK yang sedang mengawasi di luar tertangkap oleh lensa kameraku.
Setelah mengabadikan kapal yang melanggar perbatasan tersebut dari kejauhan. Dokumentasi dalam bentuk foto sangat akurat untuk dijadikan barang bukti jika kapal terbukti benar melanggar batas-batas konstitusional atau melakukan kejahatan lintas negara.
ABK tersebut terlihat panik dan masuk ke ruang kemudi sambil setengah berlari mengetahui kedatangan kapal kami yang mendekati mereka.
Seorang rekan menyalakan toa untuk menyampaikan aba-aba dan menjelaskan maksud kedatangan kami untuk memeriksa kelengkapan dokumen dan surat ijin melintasi negara.
Aku mendampingi Mayor Taufik menaiki tangga tali yang telah dilemparkan ke atas tautan kapal. Lima orang naik kekapal sementara satu orang rekanku tetap di perahu karet mengawasi sekitar dan berjaga-jaga.
“Nitip kameraku ya.” Aku menyerahkan kamera pada kru yang tinggal berjaga di perahu. Taku kalau-kalau terjadi sesuatu didalam dan tak ingin terjadi sesuatu dengan kamera itu.
Kapal ini tak begitu besar dan terlihat kumuh, lantainya banyak terdapat karat kecil dengan cat lantai yang sudah mulai tak nampak lagi warna aslinya karena memudar di bagian sana sini dan beberapa kecoak laut keluar melalui lubang-lubang kecil pembuangan air.
Mungkin karena kurang dirawat oleh awak kapalnya atau memeng mereka tidak terlalu memedulikan asalkan kapal ini dapat beroperqasi. Tapi pasti akan sulit jika melakukan perjalanan melewati laut cina selatan dengan kapal seperti ini.
Tak ada begitu banyak ABK didalamnya, hanya beberapa orang awak yang berhenti memasang tali temali pada muatan kapal yang sedang ditutupi terpal berwarna biru laut ketika kami naik ke kapal dan memberitahukan maksud kedatangan kami.
“Mohon perlihatkan dokumen-dokumen kapalnya.” Mayor Taufik menginterogasi kapten kapal yang sedang dijaga ketat olehku dan seorang rekan di ruang kemudi.
Rekan-rekan yang lainnya bertugas berkeliling kapal untuk memeriksa muatan kapal dan awak-awak yang terlihat mencurigakan untuk kemudian melaporkan kembali padaku.
“Ada pak, sebentar .” Ia melepas kemudi dan berjalan ke arah belakang. Perawakannya yang bulat dengan kulit gelap khas lelaki Indonesia itu berjalan  ke tempat sebuah lemari besi di bawah meja kayu yang tertumpuk beberapa bekas bungkus makanan dan sebuah asbak rokok.
Kapten kapal itu terlihat gugup saat mengambil berkas-berkas yang ada di dalam lemari besi yang juga terletak di ruang kemudi itu. Dengan sekelibat mata hampir saja kami lengah saat ia mengambil tumpukan kertas-kertas didalam brankas itu dibawahnya juga tersimpan sebuah pistol kecil.
Aku yang memang berdiri di pintu dari tadi dengan sigap berlari dan menerjang kearahnya, ia mengerang kesakitan saat kulumpuhkan sebelum berhasil mengarahkan pistol itu kepada mayor. Pistolnya terjatuh jauh dari jangkauan sementara ia kutimpa dengan badanku dalam posisi terlungkup.
“Aduh, ampun! Lepaskan saya!”, ia mengerang memohon untuk melepas pitinganku pada lengannya yang kuarahkan kebelakang punggung dan tetap menimpanya dengan badanku.
Seorang rekan yang berjaga tadi sedikit terkejut, begitu juga dengan Mayor Taufik, Tak ada yang mengira jika si kapten akan melakukan tindakan perlawanan dengan berniat mengacungkan pistol kepada mayor dari balik meja tempat brankas itu.
Sudah kuduga akan terjadi sesuatu, beruntung saja posisiku yang dapat melihat langsung apa ke arahnya meja itu karena posisinya menyamping smeentara Mayor terhalang oleh tutupan pembatas dibawah meja.
Walaupun tidak ada perlawanan setelah itu tapi sedikit saja lengah mungkin akan timbul korban yang tak diinginkan
Wajah Mayor Taufik murka, meskipun terkejut dengan pelawanan yang tak terduga tadi tapi ia kesal karena sikap orang tersebut. Si kapten kapal sudah kami bawa ke KRI Pulau Raas untuk di interogasi lebih lanjut.
“Tidak malukah? Menjual kekayaan alam negara ini keluar negeri hanya semata-mata untuk mengenyangkan perutmu?”
“Anak-istri saya perlu makan. Darimana saya dapat uang kalau tidak bekerja?” Kapten kapal itu melawan Mayor dengan muka yang tidak bersahabat. “Saya hanya disuruh membawa. Tanyakan pada yang mengambil,” Ia tampak acuh dan memalingkan muka. Logatnya kental seperti bahasa orang sulawesi dengan aksen suku-suku peranakan sulawesi yang tinggal di wilayah pesisir. Tak ada sedikitpun raut penyesalan diwajahnya.
Kapal itu memuat berton-ton coral atau sejenis tumbuhan karang. Sepertinya akan dibawa menyeberang ke negara Taiwan untuk di perdagangkan secara ilegal dengan tengkulak disana.
Semua tahu bahwa alam bawah laut Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, terumbu-terumbu karang sering di ekspor keluar negeri sebagai komoditi yang paling diinginkan oleh negara-negara maju.
Mulai dari bahan pembuat obat-obatan, makanan hingga kosmetik. Beberapa orang serakah mengeksploitasi kekayaan laut dengan mengeruk untung sebanyak-banyaknya demi kepuasaan pribadi tanpa memedulikan keseimbangan alam yang mulai terkikis oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab ini.
“Siapa yang menyuruh?” Mayor Taufik setengah membentak, aku keluar dari ruang pengawas. Tak begitu ingin memperhatikan, miris melihat kenyataan yang sedang terjadi didepanku.
Melanggar peraturan negara dalam perdagangan antar bangsa bukanlah hal asing bagi sebagian kecil orang-orang. Terlebih membawa barang-barang yang berniat untuk diselundupkan.
Tadinya mungkin ia hanya akan dikenai sanksi karena membawa barang-barang tanpa surat perjalanan lengkap melintasi batas negara. Soal terumbu karang yang dibawanya aku tidak yakin itu akan dikenakan pasal. Tapi dengan ketidak lengkapan surat itu sudah cukup untuk menjebloskan para kru kapal ke penjara. Dengan tambahan ia melakukan perlawanan, tak ada kata lolos.
Angin malam bertiup kencang, horison langit tak menunjukkan adanya bintang-gemintang yang biasa menghiasi langit malam. Sepertinya akan terjadi badai kecil besok. Kapal sudah berlayar meninggalkan lokasi penjagaan tadi siang, sekarang sedang menuju Lanal Balikpapan untuk menyerahkan para awak kapal yang telah tertangkap di jalur perbatasan laut utara Sulawesi tadi siang. Akan dilakukan pemeriksaan lanjut.

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg

You Might Also Like

0 komentar: