Laut Ujung Senja: Bab III (Janji Pelaut, Janji abadi)

2:23 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

Lewat jam lapor malam, semua perwira baik junior maupun senior lebih memilih mengistirahatkan jiwa dan raga dengan kembali ke kamar masing-masing untuk merebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.
Hanya beberapa yang memilih untuk tinggal dan mengobrol dengan rekan kerja yang lain. Ada yang duduk main domino di anjungan terbuka sambil minum kopi, ada juga yang sedang ngobrol-ngobrol bebas di pantry.
Aku lebih memilih masuk kekamar tercinta dan bertemu kasur kesayangan untuk saling bercumbu malam ini. Karena badan agak terasa capek setelah setengah hari tadi berlayar mengejar sebuah kapal asing dari Filipina yang melanggar masuk ke wilayah perbatasan perairan Indonesia.
Kowe yang disuruh ngejar kapal nelayan tadi ya Dan?” Agus  muncul sekonyong-konyong dari atas dipan kasurku.
Aku baru merebahkan badan dan berusaha menutup mata dengan punggung lengan kemudian hanya berdehem dan menjawab singkat. “Itu, sama Hamid.”
Agus melihat ke arah tempat tidur Hamid yang berseberangan dengan tempat tidurnya. Anak itu sudah tertidur pulas. Lalu ia kembali padaku, kali ini aku pura-pura sudah tertidur lelap dengan mulut sedikit menganga.
Baru ingin keluar kata-kata dari mulutnya ia berhenti. Dan sosoknya menghilang, mungkin menyerah dan kembali tidur.
“Ribet ya jaga laut yang ga ketahuan batas-batasnya. Ga bisa dilihat pake mata telanjang. Ya kalo aku yang jadi nelayan mungkin bakalan nyesat juga kalo ga tau.” Suaranya muncul kembali, ternyata ia masih terbangun. Sebenanya aku sedang malas untuk diajaknya ngobrol. Tapi ia terlihat sedang berbicara dengan dirinya sendiri, meskipun suaranya terdengar nyaring seluruh kamar dan menunjukkan seolah-olah siapa saja tolong komentar.
“Ya wes besok lautnya di pageri biar kethok.” sambutku. Ia menilik ke tingkap bawah. Aku tersenyum sambil sedikit membuka mata mengintip ekspresinya.
“Ngawur kamu mas. Emangnya kebun melon bapakmu!” sautnya. Lalu kamar sunyi seketika dan semua orang bersiap berlayar ke alam mimpi.
C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg
“Ya buk, iya…iya” Aku manggut-manggut. Suara ibuk di seberang telepon sedang memberi wejangan, dibelakangnya ada terdengar suara ayam berkokok dan bapak yang sedang memukul-mukul kapuk kasur dengan rotan.
“Serunding sapi ne wes habis belum?”
“Udah dari minggu kemaren buk.” Aku mengintip kedalam stoples ukuran sedang dari plastik berwarna bening diatas meja. Didalamnya hanya tinggal sebuah sendok dengan sisa remah-remah serunding yang masih menempel.
“Ibuk!” Hamid memanggil ibukku dari seberang sambil membereskan tempat tidurnya kemudian rebah. Aku menoleh dan tersenyum, suaranya kedengaran sampai ke ibu. Ibu hanya tertawa dan hapal kalau itu suara Hamid.
Serundingnya habis! Silahkan dikirim lagi, buk.” tambahnya sambil terbahak-bahak, Agus dan yang lainnya dikamar mengikuti. Mereka mulai berisik dan saling menuduh siapa yang paling banyak menghabiskan serundingku. “Aku tak banyak makan bang, itu Bang Agus congok kali dia.” elaknya pada semua orang dikamar.
Ibuk yang menguping dari seberang telepon kemudian berkomentar, “Yang paling banyak ngabisin katanya nanti ga dikasih jatah dikiriman selanjutnya” Aku menyampaikan pesan ibuk pada mereka yang masih merundingkan siapa yang paling banyak memakan abon sapi buatan ibuk.
“Yah! Jangan donk buk, nanti saya ga selera makan kalo ga ada serunding buatan ibuk tercinta! Masa Ibuk ndak kasihan kalo saya jadi kurus gara-gara kurang makan?” Agus cepat-cepat menyahut, ia berbicara dengan suara kuat mendekati telingaku yang masih menempel pada telepon genggam dan mendengarkan ibuk sedang berbicara.
Aku tertawa terbahak-bahak sambil menjauhkan mukanya dari telingaku. “Hahahaha….”
Seisi ruangan terasa hidup seketika. Keributan tentang jatah serunding ibuk dan telepon wejangan yang selalu kami rindukan. Karena diantara orang tua delapan perwira penghuni kamar ini hanya aku yang selalu rutin mendapat panggilan dari otang tua di kampung halaman.
Sampai mereka hapal dan setiap menanyakan kabarku ibuk juga akan menanyakan kabar anak-anak yang lain. Entah ini ejekan atau mereka memang kagum dengan kepatuhan dan rasa sayangku pada orang tua tapi semuanya begitu gembira saat ibukku menelepon dan ikut-ikutan mengirimkan salam.
Sampai ibuk hapal dengan nama semua penghuni kamar D-03 ini. Padahal baru lima bulan aku bergabung dikamar ini, rasanya seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun, dekat seperti saudara.
“Melonnya bapak sudah mau dipetik. Tahun ini sepertinya lebih banyak.” Suara ibuk menyampaikan kabar tentang kebun melon bapak yang akan dipanen sebentar lagi.
“Alhamdulillah.” sautku ikut berbahagia.
“Kamu kapan pulang le?”
“Dua bulan lagi insyallah buk.” janjiku.
“Kamu kapan naik pangkat le?”
“Bulan Sepuluh, buk.”
“Kamu kapan calon istri kerumah le?”
“Ibuuukkk…” jawabku protes, malu jika ibuk menanyakan itu.
Lha kenapa? Mas Rudi sepupumu sing ndhek Malang arep nihakan lho bulan depan.” Ia mulai bercerita panjang lebar tentang berita bahagia sepupuku yang tinggal di Malang.
Ibuk tidak akan bercerita tentang keadaan dirumah, ibukku yang begitu menyayangiku melebihi bapakku. Wanita lembut favoritku nomor satu yang selalu menceritakan tentang hal-hal menyenangkan di bagian lain dunia yang tak dapat kulihat, bahkan meskipun disana sedang terjadi hal  buruk ibuk takkan menceritakannya untuk membuatku khawatir. Ia mirip dengan kekasihku. Wanita favoritku nomor dua.
“Jangan lupa shalat ya le!”
“Ya buk.”

You Might Also Like

0 komentar: