Laut Ujung Senja: Bab IV (Janji Pelaut, Janji Abadi)

2:27 PM Lovely Bunny 001 1 Comments

Ia tidak pernah bertanya tentang kabarku dalam setiap pesan  sandi yang ia kirimkan. Hanya: “Sudah berapa batang rokok kau hisap hari ini?”. Entah, setiap ia bertanya aku tak pernah mampu menjawab, karena dengan seperti itu aku merasa sangat dekat dengannya.
Serasa ia sedang berada tepat didepanku dengan raut muka yang penuh kekesalan lalu ketika kunaikkan muka aku meringis dan kusadari ia tak ada disitu, dihadapanku…
Gadisku yang cantik dan lembut sekali ketika berbicara ini dapat berubah menjadi serupa malaikat penjaga pintu neraka yang bersiap menceburkanmu kedalam kawah  panas mendidih ketika melihat, menghirup dan mengendus asap tembakau yang dibakar.
Dia bilang tidak tahan asap yang sungguh menyesakkan paru-parunya. Dan ia akan memarahi setiap orang yang mendekatinya sambil membakar rokok apalagi mengebul-ngebulkan asap rokok dihadapannya. Bagiku ia lebih mirip seorang dokter yang takut mati. Ia menyuruh perokok untuk berhenti membakar tembakau gulung dan mulai menjalani hidup sehat tapi tak siap untuk menyentuh pasien yang kronis. Jangankan menyentuh, mendekatpun enggan.
Lucu sekali ketika kuingat, suatu ketika kami duduk berdua dan aku lupa menyalakan rokok dihadapannya. Sekonyong-konyong ia merebut benda jahanan itu dan  membuangnya ke tanah tanpa sungkem lalu menginjak-injak dan menggilasnya sampai batang tembakau gulung itu sampai runyem tak berbentuk.
“Lihat rokoknya! Kau menindasnya tanpa belas kasihan, lihat ia meronta-ronta…tolong selamatkan aku.” kataku menirukan seolah-olah batang rokok itu dapat berbicara. Tapi mukanya amat datar, tanpa ekspresi. Tanpa rasa bersalah.
Lalu semenjak itu, ia melakukan hipoterapi padaku. Ya hipoterapi, karena ini jenis terapi aliran ekstrimis yang mengharuskanmu, perokok untuk hanya menghisap tiga batang rokok setiap hari. Jatah pagi dari jam 12 malam sampai jam 12 siang, jatah siang sam,pai jam 6 sore dan jatah malam sampai jam 12 malam.
Sumpah, kesal setengah mati aku kawan! 2 jam untuk bertahan dalam hidup tanpa menghisap tembakau gulung itu rasanya mulutku pahit sekali, jantung berdebar-debar dan sesak napas.
Benar memang orang bilang merokok itu merupakan suatu kecanduan. Tetapi aku sangat menikmatinya, seperti makan sepiring gudeg dan minum es teh dingin di tengah hari yang terik.
Lalu, dimana letak kesalahan orang yang menghisap rokok? Kadang kuperdebatkan itu dengan diriku sendiri. Apa aku mengganggu ketentraman dan menyebabkan polusi udara seperti bagaimana asap yang dihasilkan kendaraan-kendaraan bermotor dalam menyumbang sebagian besar polusi udara di tengah kemacetan jalan di kota-kota? Tidak, ayolah kawan!
Seberapa kecil asap yang dihasilkan oleh sebatang rokok? Bahkan tidak mampu membunuh seekor nyamuk. Dan apakah aku menyebabkan Negara Indonesia merugi miliaran rupiah pertahun karena angka kesehatan penduduk Indonesia yang terus menurun dari tahun ketahun akibat penyakit-penyakit kronis yang merenggut nyawa jutaan penduduk Indonesia pertahunnya? Yang benar saja!
Bukan hanya merokok saja yang menjadi penyebab banyak penyakit kronis yang diderita oleh sebagian besar perokok. Tetapi memang karena gaya hidup mereka yang tidak sehat.
Mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi tanpa diimbangi asupan vitamin dan protein dan olahraga yang cukup. Lihat aku! aku baik-baik saja sejak dari umur 16 tahun mulai merokok. Itu karena aku aktif dan melakukan banyak kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuhku dengan teratur.
Bahkan negara ini seharusnya berterima kasih kepada pabrik-pabrik rokok yang mengayomi kehidupan warga-warga desa kelas menengah kebawah, hidup dan menghidupi keluarga dari melinting kertas-kertas dengan tembakau kering dan cengkeh, mengarit di pagi-pagi buta untuk mengambil tembakau siap panen yang akan dipotong dan dijemur untuk dijadikan bahan isian rokok.
Orang-orang desa ini berusia baya dan pertengahan. Sudah bukan umur produktif lagi. Bayangkan kalau banyak pabrik rokok di Indonesia tutup karena kami perokok aktif memilih untuk meninggalkan rokok.
Dan jika orang-orang berpikir seorang perokok yang berada di suatu wilayah publik mengganggu dengan asap rokoknya, kau bisa menghindar kawan. Bukankah itu wilayah publik? Semua orang berhak atas akses tempat itu selama mereka masih berada disitu.
Terkecualilah jika memang sudah dipasang tanda peringatan yang ada gambarnya rokok lalu dilingkari dan diberi tanda strips merah itu, baru artinya kau tidak  boleh bakar-bakar disitu. Ah kadang-kadang aku juga pura-pura tidak lihat, maaf!
Tentu tidak akan kusampaikan hasil perdebatan dengan jiwaku itu pada kekasihku. Sungguh aku takut kalau-kalau ia memberondongku dengan ribuan fakta-fakta untuk tetap mempertahankan argumennya.
“Oh ya, jadi kau sama sekali tak merasa berdosa meracuni tubuhmu pelan-pelan dengan nikotin-nikotin itu? Kau tau bung, lebih baik kau makan pecahan beling karena percaya atau tidak, didalam rokok yang kau bakar itu ada silika. Kau tau apa itu silika? Bahan untuk membuat kaca!” Ia membentakku, lebih kejam dari senat-senat yang sedang menggembleng tamtama baru.
Mengguruiku seakan-akan aku ini anak SD yang harus berhenti bolos sekolah kalau tidak mau tinggal kelas.”Dan jika kau berpikir sedang menyelamatkan hidup ribuan pekerja di gudang-gudang rokok yang ada di pulau jawa sana. Tidak lebih hanya menciptakan bom waktu yang ditanam dalam setiap pemuda-pemuda yang menghisap rokok-rokok itu, pemuda sepertimu. Menciptakan kebodohan lintas jaman yang tak akan pernah bisa berubah karena sudah mengurat tanah.”
Bagaimanapun keadaannya bahkan jika seluruh penduduk Amerika suatu hari nanti berbahasa Jawa semua, ia akan tetap mengharamkan merokok selama hayat masih dikandung badan.
Suatu hari ia menyerah dengan membekukan undang-undang hipoterapi yang diterapkannya, wajahnya tanpa layu sambil dengan lemas berkata padaku “Berjanjilah kau tidak akan merokok lagi.”
Raut mukanya begitu meminta dikasihani. Iba aku melihatnya, seperti terhipnotis oleh mata cokelat muda yang menatap pasrah, “Ya, aku janji.” begitu saja kata-kata itu meluncur keluar dari bibirku.
Mulanya ia tetap seperti itu, memandang dengan tatapan penuh keibaan lalu senyum licik mengembang di bibir tipisnya yang mungil. “Janji pelaut akan dipegang sampai mati. Ingatlah itu kawan!” Ia berdiri dan mengelus-elus pipiku.
Ah, aku terjebak. Terjebak tatapan yang mengunci itu. Seharusnya tak kukatakan aku berjanji. Katakan saja aku akan berhenti. Tapi tidak tahu kapan.
Sekarang aku sudah berjanji dan itu artinya aku harus sudah berhenti merokok sejak saat janji itu sudah diucapkan. Seharusnya ia jadi manipulator bukan pengajar anak-anak kecil. Mungkin anak-anak itu juga sudah diajarinya untuk jadi pembujuk ulung. Oh kekasihku yang sangat meneduhkan, kenapa engkau juga mengesalkan?

You Might Also Like

1 comment: