Laut Ujung Senja: Bab II (Janji Pelaut, Janji Abadi)

12:05 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg
Suara burung camar laut memekik diatas ubun-ubun, aku menatap langit siang yang panas, cerah dan bergelora. Hanya lautan luas sepanjang mata memandang, sebuah kapal terayun-ayun ombak. Burung-burung itu singgah beberapa di anjungan atas kapal. Dibelakang ruang kemudi.
Meskipun panas cukup terik untuk berada dibawah sinar matahari langsung rasanya sedikit menyegarkan untuk keluar ke anjungan dan menikmati udara segar sambil duduk berteduh di bawah tangga menuju tiang radar pemancar. Sebenarnya tidak aman terpapar dengan sinyal kapal lama-lama, anu, akan mengganggu kesuburan organ reproduksi, katanya.
Burung-burung tadi berjalan-jalan diatas lantai kapal yang panas. Aku saja yang memakai sepatu beralas tebal berjingkat-jingkat sedikit, bagaimana mereka dapat leluasa kesana kemari berjalan-berjalan sungguh membingungkan.
“Bang, apa kau buat kat sini?” Baru duduk sebentar, Hamid datang menyergah menepuk pundakku pelan. Menghanyutkan kesunyian sesaat.
“Ga ada. Mumpung lowong waktu.” kataku.
Jangan banyak merenung bang, nanti tesampok baru padan muka!” Katanya sambil ikut duduk disampingku, lucu jika melihat kami berdua sedang bercakap-cakap. Hamid dan aku berasal dari dua kebudayaan yang berbeda, etnik tepatnya. Caranya berbicara dan kosakata yang ia gunakan sangat melayu.
Cara ia mengucapkan setiap kosakata terdengar lemak dengan tambahan lah dan kah dibelakang. Sementara aku, sangat medhok dengan aksen seperti tukang jual ketoprak. Tapi kami dapat memahami satu sama lain.
Hamid adalah juniorku, pangkatnya masih letda. Dia ditempatkan di bagian dapur, yang bertugas menyiapkan segala keperluan urusan lambung tengah semua prajurit-prajurit yang ada disini. Hamid dan aku juga bersama-sama saat dipindahkan kapal. Sudah hampir dua kali kami berganti rumah. Sekarang ia ngintil denganku lagi.
“Gimana kabar orangtuamu. Sudah telepon?” tanyaku padanya yang sedari tadi tanpa kusadari juga ikut mengamati burung-burung camar yang sedang berjalan-jalan di atas lantai besi panas didepan kami.
“Mid, Hamid?” tanyaku sekali lagi.
“Oh ye bang. Maaf kami tak dengar hahaha…apa tadi?” ia nampak terkejut dan menanyakan ulang apa yang telah kukakatan padanya.
“Orang tuamu. Gimana kabarnya? Bintan kan ya?” tanyaku kembali.
“Oh iya! Alhamdulillah baik bang. Abang nak aku kirim salam kat mereka kah?”
“Iya boleh.”
“Habis tu, macam mana kabar kakak cantik tu, sihat?” ia menggodaku, melirik sebentar kemudian tersenyum-senyum. Dasar Hamid, paling tahu saja pertanyaan yang selalu membuat hatiku bergejolak. Meskipun ia juniorku tapi kami sudah seperti adik dan kakak, terlihat akrab saat berbicara dan mengobrol tentang keadaan satu dan yang lainnya.
Terkadang ia bercerita tentang kabar keluarganya padaku, tentang bapaknya yang mulai sakit-sakitan dan ibuknya yang sendirian di rumah karena semua abang dan kakaknya telah menikah dan tak menetap dirumah yang sama dengan orang tuanya.
“Ha bang, macam mana?” tanyanya lagi menggodaku, kali ini ia menyikut perutku.
Aku menyerah, “Ya dia baik-baik saja.”
“Nanti kita kunjungi dia sama-sama ya bang. Aku nak tengok juga macam manalah lawa muka permaisuri Abang Danu aku ini. Hahaha…” katanya sambil tertawa, kemudian berselonjor dan membiarkan setengah kakinya terjemur matahari.
“Tak pernah terbayang aku bang waktu kecil jadi pelaut. Rumah aku depan pantai. Balek sekolah maen kat pantai, nak sekolah mandi kat laut. Dah besar menjaga laut pulak.”
“Hahaha…kalau begitu kamu memang manusia laut, mid” kini gantian aku yang mengejeknya. Ia bersungut-sungut.
“Menjadi prajurit negara adalah suatu anugerah karena tak semua warga negara Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi aparat penegak kesatuan negara. Kau, jagalah baik-baik kepercayaan negara itu. Jadilah manusia yang kuat dan berjiwa patriot.”
Hamid memandangku, memahami setiap kata yang kuucapkan. Nampak sedang mencerna kata-kataku. Hamid sangat mudah berbaur dengan tugas-tugas perwira dan tak segan-segan bertanya jika ia tidak tahu. Bahkan sering dimarahi karena banyak bertanya. Tapi baginya lebih baik mencari tahun apa yang sedang ia kerjakan daripada buta dengan keadaan.
Ia adalah anak lelaki dari kepulauan, pemuda melayu yang cerdas dan pantang menyerah. Itulah sebabnya aku menyukai kepribadiannya. Kadang kami berdiskusi tentang isu-isu politik yang sedang hangat diperbincangkan, kadang tentang keinginan-keinginan keluarga yang jauh menyimpang dari cita-cita anaknya dan kadang tentang sifat-sifat tak terduga seorang perempuan. Hamid akan bilang ia pusing kalau mendadak membicarakan tentang yang terakhir.
Burung-burung camar laut tadi mulai berjalan berjingkat sambil kadang terbang lalu turun lagi ke lantai. Terlihat kawanannya terbang di atas kapal dan seekor burung yang terbang mondar-mandir mengelilingi kapal dan seekor diantaranya memekik kepada kawanan yang sedang terbang seolah ia adalah pemimpin pasukan terbang itu.

Ketiga burung yang dibawah pun ikut memperhatikan sejenak lalu terbang mengudara, mengepakkan sayap-sayap mereka yang sedikit limbung diterpa angin laut yang agak kuat siang ini. Kawanan burung-burung camar itupun terbang menjauhi kapal, mungkin menemukan laut yang dipenuhi ikan untuk ditangkapi.
C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg

You Might Also Like

0 komentar: