MPH Escape Projects: Bandung Walking Days

7:58 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

Halo traveller amatir!


Fresh from the oven. Saya baru pulang dari perjalanan Bandung ke tempat tidur. Meskipun diperjalanan pulang saya sudah tidur. Oke, ada sedikit masalah disini. Bukan hanya saya bingung kali ini mau nulis pake bahasa formal atau informal (semenjak ada fitur Google Translate, saya bingung setiap mau posting sesuatu enaknya pake bahasa apa), tapi juga karena sebenernya nggak ada yang terlalu peduli amat apa yang saya update disini. Secara, dari ratusan post yang saya update. Kalau jumlah pengunjungnya dikumpulkan didalam ruang kelas dengan kapasitas 40 orang, dan setiap meja diisi dua orang. Maka jumlah pengunjung blog saya pastinya akan duduk sendiri-sendiri. Ya, lebih sedikit daripada jumlah rambut alis saya!

But who care anyway. Saya akan tetap menulis seperti seharusnya saya menulis karena saya menyukainya. Inilah sisi keegoisan didalam diri saya yang tak bisa ditolerir.


Review saya tentang perjalanan kaki di Bandung ini akan saya tulis dengan sejujurnya seperti review saya tentang banyak perjalanan sebelumnya. Warga sosial media harus tau apa yang terjadi dibalik seorang traveller yang katanya masih tetap bisa punya banyak uang meskipun sering jalan-jalan. Dan kenapa sebagian orang tetap bersedih meski pulang liburan. Silahkan memaknai tentang Traveller Undercover ini!

Kali ini saya ingin sedikit berterima kasih kepada Google yang telah bersedia saya endorse di postingan ini dengan segala kesampahannya. Sekaligus saya ingin memberikan pandangan terhadap apa yang saya pikirkan menenai iklan Google akhir-akhir ini yang mengganggu pikiran.

Jum'at kemarin kebetulan sedang ada kerjaan di Bandung. Tadinya tidak kepikiran karena itu hari jum'at mungkin ada bagusnya jika sekalian menghabiskan waktu akhir pekan mengelilingi Bandung. Sempat ragu, dan setelah pekerjaan selesai. Saya sudah di Takuban Parahu menyiumi sengatan aroma belerang dan kenalan dengan beberapa kawanan dedek-dedek gemes yang lagi study tour. Dari Padang.




Aroma belerang disini tidak terlalu semenyengat di Kawah Singkidan. Mungkin karena jarak kawah dan tempat pengunjung sangat jauh. Mungkin juga karena kali ini saya tidak sendirian. Melarung kekosongan jiwa didalam perasaan tidak bersyukur atas kebahagiaan disekililing. November tahun lalu adalah banyak janji yang tidak ditunaikan. November tahun lalu ketika di kawah Singkidan, cinta nampak didepan mata. Tetapi ia jauh dari cahaya. Redup dan tak berbentuk hati.



Aduh, ngedumelin apasih diatas itu? Bukannya ini postingan tentang cerita jalan kaki?!

Abaikan kelabilan emosi saya dalam menulis, maaf.

Oke begini, saya diturunin temen di bawah jalan layang Pasupati. Disitu ada perempatan dan saya mengarah ke barat sesuai peta. Kalau pakai arah kanan-kiri, saya jalan kaki belok ke sebelah kiri menuju arah lembang. Kemudian naik angkot warna krem jurusan ... ya jurusan lembang! Hmmh, mencoba ramah dengan penduduk sekitar setiap dijalan bertemu dengan orang lokal saya akan berkata, abah, aa', teteuh. Ini namanya kearifan lokal kalau temen saya bilang. Supir angkot ini mungkin tau saya memang masih asing tentang Bandung dan bertanya saya akan kemana. Ya jelas, siapa orang lokal yang mau pergi ke tempat wisata masih pake baju kantor (dress tepatnya) plus bawa backpack yang udah kaya cangkang kura-kura. Sudah jelas saya ini turis domestik amatir yang gandrung ngeluyur ngabisin uang. Si abah sangat ngeyel sekali menawarkan carteran angkotnya untuk membawa saya naik ke Takuban Parahu. Saya nggak tanya berapa tarifnya, tapi si abah langsung bilang. Kira-kira 300 ribuan neng. Itu kira-kira lho. Berarti kan ada Pph-nya. Tidak terkecoh dengan abah ini, saya terkecoh dengan abah supir elf di perempatan Lembang. Saya naik elf ini dengan hitungan tarif carter mobil perhari. Dua ratus lima puluh ribu rupiah dikeluarkan dari dompet secara terpaksa dalam kurang dari tiga jam. Hanya untuk ke Takuban Parahu. Satu diantara tiga objek yang seharusnya dapat saya kunjungi dalam satu kawasan wisata yang sama. Karena di tiket masuk tertulis jelas objek apa saja yang dapat saya kunjungi.

Perlu diingat dalam seumur hidup. Jangan pernah terkecoh dengan tawaran carter pribadi untuk kendaraan umum. Karena banyak alasan untuk menolak. Pertama, jika anda sendirian maka biaya yang dikeluarkan tidak akan rasional atau over budget. Kedua, anda punya smartphone canggih yang akan memberikan arah kemana tempat tujuan yang akan dituju. Kemudian, anda punya mulut untuk bertanya kepada warga sekitar tentang apa yang seharusnya anda lakukan jika akan pergi ke suatu tempat. Dan yang terakhir, berjalan kakilah jika tidak terlalu jauh. Nikmati suasana asing dan udara yang berbeda dari kota pengap tempat anda biasanya tinggal. Kembali ke case elf tadi, tertinggal sedikit perasaan menyesal menghabiskan seperempat juta dalam waktu kurang dari tiga jam. Saya sampai berniat untuk ingin tidur di mesjid saja seperti jaman penjajahan dulu. Tapi karena mengingat saya adalah investasi berharga untuk orang tua di kampung, jadi menjaga keselamatan diri sampai pada waktu yang ditentukan tidak ada salahnya. Jadi, kali ini terpaksa menginap di hotel kelas melati yang lebih jelek dari kelas melati tapi tarifnya agak bikin seneb.

Kenapa dari tadi saya menggunakan kata-kata jalan kaki? Karena memang saya jalan kaki untuk pergi ke semua tempat wisata yang saya datangi ketika di Lembang dan Bandung. Google Map memang benar-benar membantu dalam menyesatkan saya yang sudah jelas bermasalah dengan peta. Tidak seperti di iklannya yang ada adegan tiga orang anak muda gaul dari kota para maniak smartphone dengan mudahnya berkata: 'Oke Google, angkot ke Ancol ...'; 'Oke Google, berapa celsius suhu sekarang?' -Ini adegan naik Papandayan- dan 'Oke Google, cara mendirikan tenda!'. Google yang saya gunakan tidak presisi sampai membuat saya beberapa kali pulang balik untuk menentukan arah. Selain itu saya jadi apatis sama warga sekitar. Padahal seharusnya saya bisa bertanya kendaraan apa yang bisa dinaiki untuk pergi ke objek-objek wisata. Oke, tidak selalu buruk. Google juga membantu saya memprediksi jarak dari lokasi terakhir dengan tempat yang akan saya tuju. Percaya atau tidak, saya jalan kaki dari perempatan lembang ke lokasi wisata Float Market dan Observatorium Boscha. Kemudian lanjut ke Farm House. Ya, kalau yang sudah pernah kesana pasti tau kisaran jauhnya. Untuk yang amatiran dan akan kesana mencoba jalan kaki seperti saya. Kira-kira dari perempatan lembang ke De' Ranch sekitar 600 meter, kemudian kalau dari perempatan dihitung ulang kearah Observatorium Boscha itu jaraknya 2310 meter atau kira-kira 2,3 kilometer. Kemudian jarak dari Boscha ke Floating market yang masih satu jalan tapi beda gang kisaran 1,5 kilometer masuk kedalam. Dan dari Floating Market ke Farmhouse sekitar 3,2 kilometer. Karena matahari sudah mulai terik dan sudah waktunya makan siang akhirnya saya yang kelaparan ini sudah males jalan kaki. Jadi untuk ke lokasi Curug Cimahi saya memilih untuk naik angkot saja supaya bisa cepat sampai. Tapi tetap jalan kaki sampai di persimpangan arah mau ke Cikole. Jarak dari Farmhouse ke pertigaan arah Cikole kira-kira 1,2 kilometer.

Sebenarnya niat saya di pagi hari hanya akan ke floating market. Lalu setelah itu pergi ke curug cimahi. Nah, tibanya didepan jalan menuju ke area wisata Floating Market saya melihat dari kejauhan ada kubah berwarna putih besar diatas bukit. Didalam pikiran yang terlintas ketika pertama kali mengunjungi Lembang adalah Sherina dan Saddam dalam film anak-anak jaman saya dulu, Petualangan Sherina. Lalu iseng saya berjalan terus kedepan menuju arah bukit tersebut. Berpapasan dengan ibu-ibu yang baru pulang menjemput anaknya sekolah di TK saya tanya dengan awalan sapa, Nuhun. Iya nuhun ... dalam bahasa Sunda artinya terima kasih. Dimana seharusnya saya berkata, Punten ... Tapi untungnya si ibu nggak terlalu denger awal kalimat saya. Katanya yang didepan itu Observatorium Boscha. Yak! Sesuai prediksi sedari tadi, ternyata memang itu Observatorium Boscha. Satu-satunya tempat melihat bintang dan benda-benda langit yang cuma ada satu di Pulau Jawa dan Indonesia.


Perjalanan naik keatas itu sangat menyenangkan. Penuh keringat, teduh dan backsound eratan Cicada serta kicauan burung-burung di sebalik hutan-hutan pohon heterogen di sekitar Boscha membuat saya benar-benar tidak ingin naik angkot dan memasang headset untuk mendengarkan musik Indie. Ditambah dengan gema suara berisik berasal dari anak-anak di sekolah yang tepat berada dibawah Boscha. Naik keatas dari gerbang nggak jauh-jauh amat kok. Kira-kira kamu harus jalan naik bukit sekitar 500 meter. Tapi diperjalanan dan setelahnya hijau alam akan membuat lupa seberapa capek yang harus dibayar. Apalagi pas ketemu kubah yang tadi dilihat waktu dibawah. Untuk cerita selanjutnya sudah saya rekam dan ada fotonya. Penjelasan didalam tempat meneropong bintang dan kuliah umum tentang pengenalan Astronomi sudah saya rekam. Jadi jika ingin menambah pengetahuan saya sarankan untuk mendengarkan sendiri rekaman yang sudah saya upload.









Untuk datang ke suatu tempat yang asik tapi sendirian pasti sangat menyedihkan. Maka yang harus anda lakukan adalah berkenalan dengan setiap orang yang ditemui sebanyak mungkin. Pertama, sebelum masuk ke ruang pengamat bintang saya berkenalan dengan Bapak penjaga area observatorium, beliau bekerja disana sudah dua tahun dan asli Lembang. Kemudian selesai solo selfie saya duduk dibawah pohon. Ada laki-laki yang sepertinya sedang bingung membidik kamera smartphone nya. Kemudian saya yang cuek ini tanpa tau malu nyeletuk, 'Mas, mau saya potoin?' dan dia tersenyum. Setelah itu ngobrol singkat. Mas nya -yang sengaja tidak saya tanya namanya karena beliau tidak tanya nama saya-, dari Purwodadi, kerjanya di Bandung. Di perusahaan produsen cuka, cairan pembersih lantai dan garam.  Merknya Sidola.Datang ke Boscha setelah biking dari Bandung dengan teman-temannya. Tapi yang lainnya sudah capek dan ninggalin dia sendirian. Akhirnya beliau yang sama tertariknya dengan saya waktu ngelihat kubah Boscha dari jalan naik keatas sama sepedanya, sendirian. Kuliahnya ... belum kuliah. Lulusan IPS. Dan matanya mengikuti saya setiap saya bercerita. Mengingatkan kepada seseorang yang selalu melakukan itu ketika saya bicara. Seseorang -yang katanya- adalah seorang Badboy. Oke, saya pikir beliau juga akan mengikuti sesi kuliah umum tentang astronomi tapi ternyata cuma ingin berkunjung. Sayang sekali! Mas seharusnya tau, cuma dengan bayar RP. 15.000,- mas sudah bisa kuliah astronomi dalam waktu satu jam tanpa harus daftar di ITB. Karena kemungkinan untuk mas bisa diterima jadi mahasiswa jurusan astronomi lebih tidak mungkin dibanding datang ke Observatorim Boscha untuk belajar dan bertanya senyeleneh mungkin disini. Kemudian setelahnya saya berkenalan dengan tiga mahasiswa ITB yang kebetulan jadi pemateri disana. Pertama, Mas Aji yang juga ternyata adalah salah satu peneliti disana. Beliau dan timnya pernah menerbitkan jurnal tentang penemuan bintang di langit Lembang. Meskipun tingginya sama dengan saya yang tingginya dibawah 160 meter ini, tapi ilmu Mas Aji sudah melebihi tinggi adik laki-laki saya. Beliau sudah Pasca-sarjana rupanya. Kemudian dua orang mahasiswa lainnya adalah perempuan. Yang satunya saya lupa, tapi beliau mengikuti setiap peserta kuliah saat di Observatorium dan kuliah di ruang multimedia. Yang kedua ini namanya kalau tidak salah Yanny. Beliau mahasiswa fakultas FMIPA ITB yang menjadi pemateri untuk menjelaskan tentang pengetahuan tata surya.


Angkot yang ada di pertigaan arah ke Cimahi, warnanya kuning. Angkot ini kalau sudah berhenti disini pasti ngetem. Begitu kata ibu-ibu yang jualan air minum di pinggir jalan sekitar situ. Jadi, kalau anda jalan kaki. Jangan naik dari setelah belokan. Tapi naik dari sebelum pos polisi yang ada di sebelah kiri, supaya angkotnya langsung jalan. Kalau tidak, ya anda harus nunggu sampai ada penumpang atau kang sopirnya mau nyalain mesin angkot untuk lanjut narik. Dan jika sedang panas, rasanya seperti masuk kedalam ruang sauna.

Jalanan ke arah Curug Cimahi berkelok-kelok menanjak. Jalanan khas daerah desa di pegunungan. Dan saya pun tidak menyangka, disebalik jurang curam yang angkot ini lewati adalah Curug Cimahi yang saya cari-cari. Yap, lokasi wisatanya tepat di tepi jalan. Tempat dimana banyak angkot warna kuning seperti yang saya naiki sedang parkir. Kemudian turun dan membeli karcis tiket masuk. Turun ke bawah menuju curug. Berkenalan dengan dua orang teteuh-teteuh hijaber, dari mereka saya semakin bersemangat buat turun kebawah. Perlu diketahui, jika saya tidak tahu tangganya benar-benar bisa sampai kebawah dan mencicipi shower gratis dari air terjun. Saya tidak akan bersusah payah menuruni 587 anak tangga. Karena anak tangga tersebut hanya terlihat sampai di panggung besi yang sedang hits dipakai buat foto-foto sama instagrammer. Oh ya maaf, Saya nggak punya versi foto sepeti itu. Sudah mainstream!



Wah gila, seru luar biasa! Semburan air dari jatuhnya aliran sungai diatas setinggi kurang lebih 74 meter benar-benar menyegarkan. Untungnya saya datang tidak terlalu sore, jadi masih sedikit sepi. Karena semakin sore semakin banyak yang datang. Jika ingin dapat foto yang lebih bagus, tips untuk para instagrammer lebih baik datang pagi hari supaya dapat best photo yang bisa di share dan dapet banyak like dari follower anda. Sampah! Hanya mengambil foto, tapi terbaik. Selebihnya duduk dibangku kayu dan melihat orang-orang lalu lalang. Kemudian pasang headset dan memutar album grup Indie kesukaan. Meskipun duduk jauh dari lokasi air terjun, tapi cipratan dan semburan dari jatuhnya air terjun yang memercik batu dan pepohonan di sekitar lokasi masih mengenai saya. Rasanya seperti sedang mandi. Tapi gratis dan ditempat umum, tanpa sabun dan tanpa buka baju. Menikmati suasana, tapi semakin lama semakin berisik. Ah, indahnya menikmati kombinasi dari manusia yang menginginkan alam dan menikmati eksploitasi keindahannya dan alam yang diam ditempat membangun pertahanan diri dari semakin terkikisnya oleh pertumbuhan kelahiran dan kemajuan daerah.

Air nya tidak terlalu jernih, tapi semburat pelangi yang muncul dari spektrum cahaya yang terbias dari percikan air disekitar tempat jatuhnya air sungai diatas. Sangat indah! Maka sejak tahun 2014, nama Curug Cimahi pun dirubah dan hasil alam ini diresmikan namanya menjadi Curug Pelangi. Oke, kawasan wisata ini bisa tergolong kawasan wisata yang sudah mainstream dan cocok untuk wisata keluarga. Karena kebanyakan memang yang datang membawa anak dan istri serta orang tuanya. Juga ada beberapa wisatawan manca negara. Nah, ngomong-ngomong soal wisatawan manca negara. Disini saya sempat skeptic. Waktu mau masuk ke lokasi wisata Takuban Parahu, penjaga tiketnya sampai bertanya dua kali apakah saya ini turis lokal atau manca negara. Kemudian disini juga, saya ditanya dari negara mana. Lho, memangnya saya keliatan berhidung mancung atau berambut blonde? Tidak, saya juga bukan orang dari negara Asia Tenggara lainnya. Saya asli Indonesia, kelahiran Lumajang dan besar di tanah melayu. Tumbuh dengan dua bahasa daerah secara beriringan dan mempelajari banyak bahasa daerah lainnya serta beberapa bahasa asing. Menguasai bilingual. Oke, sedikit intermezo tentang turis. Yang jelas tarif wisatawan lokal dan mancanegara di patok berbeda jauh, apalagi jika akhir pekan. Percayalah, ini memang sungguh-sungguh terjadi di semua lokasi wisata di Bandung. Dan bukan hanya di Bandung saja tapi juga di hampir keseluruhan lokasi wisata di Indonesia. Sepertinya sebuah harapan saya tentang wisata terjangkau untuk rakyat Indonesia yang sangat perlu hiburan ini sudah terkabul.

Lalu bagaimana cerita tentang De' Ranch, Floating Market dan Farm House? Tak ada yang menarik perhatian. Saya lebih menikmati masa berjalan kaki dibanding datang ke lokasi tersebut. Hanya tempat rekreasi keluarga biasa dengan beberapa wahana petualangan. Jadi saya tidak masuk kedalam meskipun sudah jalan jauh-jauh.

Anyway, terima kasih Bandung. Saya senang jalan kaki disini. Udara nya sangat mengisi ruang paru-paru saya yang butuh udara bersih. Karena tinggal di kota industri membuat paru-paru menghirup banyak nitrogen oksida dan sulfur trioksida membuat saya susah bernafas lega juga menghambat otak untuk berfikir rasional sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mas Aji bilang, lapisan ozon mempengaruhi pembakaran meteor yang lewat di sekitar orbit bumi. Jika gaya gravitasi bumi yang kuat bisa menarik meteor tersebut, maka meteoroit akan menembus lapisan ozon. Dan seberapa tebal lapisan ozon mempengaruhi proses pembakaran meteoroit sebelum sampai ke permukaan bumi ketika melalui proses pengikisan di daerah lapisan ozon dilangit bumi. Jika lapisan ozonnya tebal maka meteoroit dapat terbakar habis sebelum sampai ke bumi. Jika meteoroit nya kecil maka akan semakin cepat terbakar sebelum sampai ke permukaan bumi. Bagaimana jika meteoroit yang besar melewati orbit bumi dan tertarik gravitasi disekitar daerah dengan lapisan ozon yang tipis? Anda tahu menjawabnya.

You Might Also Like

0 komentar: