Laki-laki di Kaki Gunung Merapi: Afirmasi dan Sentralisasi

3:44 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

Selamat sore Sayangku,

Sayangku diantara banyak rasa sayang yang tak bisa kuucapkan dalam diam. Karena kau pura-pura tak mengerti dan pergi ketika kau tahu banyak hal tentangku. Hari ini aku menonton film tentang Gie, padahal tadinya aku hanya ingin melihat aktor tampan kesukaanku di film yang pernah melambungkan namanya bersama dengan seorang aktris lulusan sastra UI. Seperti yang kau pernah sampaikan kalau aku tidak salah jika kita bertemu lagi kau ingin membicarakan tentang Soe Hoek Gie denganku. Kau pasti tahu siapa yang kumaksud, karena kita sehati dan sejiwa. Ah sudahlah, tapi kau tak disini lagi. Aku merasa jauh sekali darimu meskipun aku masih menempel disitu, sulit untuk beranjak.

Apa kau masih suka mendaki Papandayan? Ada yang slalu ingin aku tanyakan tapi tak pernah punya kata. Apa yang kau pikirkan ketika berhenti sebentar di Mandalawangi? Aku berharap kau memikirkanku diantara hamparan Edelweis yang banyak sekali itu, tidak sebanyak di Merapi. Bukan di hutan mati, tempat itu mengandung mistis yang kau takuti. Aku ingin selalu berterima kasih padamu karena mengajarkanku banyak hal yang tak pernah kusentuh dengan ego ku yang semena-mena. Karena kau sekarang sangat sibuk mendaki gunung dan berpetualang dengan teman-temanmu yang tak kukenal dan 'Kepuasan Hasrat Manusia'. Tapi kau harus banyak belajar lagi padaku tentang mencintai alam dan bahasa sastera yang menggugah. Bukan hanya bisa menggugah hati, tetapi isi kepala manusia. Dimana aku dapat berdiskusi pintar denganmu tentang banyak hal dan membuka pintu itu, mengawang-awang diantara ruang imaji yang tak pernah kita jelajahi.

Maafkan ketika kita bertemu kau masuk diantara dimensi waktu seorang perempuan yang sangat egois dan keras kepala serta acuh terhadap hal-hal kritis. Karena aku dinamis, maka untuk membaur dengan lingkungan ini selama masa hibernasi aku lebih memilih berkamuflase diantara gedung-gedung tinggi rimba Kota Jakarta. Maafkan aku terlalu banyak meminta maaf tapi tak pernah sedikitpun meminta cinta darimu. Karena meminta cinta dari individu untuk kepentingan personal adalah ke-tidak manusiawi-an yang kau benci untuk bermain dengannya. Karena diam mu adalah asing bagiku. Dan aku suka berada ditempat asing, tak mengenalmu terlalu dalam. Karena semakin jauh aku mempelajarimu, aku ketakutan tentang akhir cerita yang tak kau yakini akan bahagia.

Aku tidak terlalu pintar dibanding denganmu, kau lihat? Bahkan pendidikan tinggi pun aku belum selesai hingga 7 tahun. Aku tak sepintar itu Sayangku. Aku hanya pura-pura pintar dihadapanmu, agar dengan begitu aku dapat selalu mendengarkanmu mendebat semua hal yang tak kusetujui. Bagaimana bisa semua hal yang ada didalam hidupmu meng-copy milikku? Kau yang pintar bermain gitar dan harmonika. Kau yang apatis, kau yang tak mau mengejar. Kau yang sangat ingin kesana dan sangat ingin tahu. Berubah-ubah, berpendar, menukik naik dan melesat jatuh dari udara dengan tiba-tiba lalu membumbung tinggi kembali. Kadang aku merasa cobaan terbesar yang pernah Tuhan ciptakan adalah bukan ketika keluarga kami tiba-tiba mendadak miskin dan Bapak pergi meninggalkanku sendirian didunia ini untuk selamanya. Tapi bertemu denganmu, memutar kembali roll film dari dunia dahulu ke masa sekarang. Suatu ujian dari Tuhan untuk membuatku punya keinginan yang besar untuk melupakan masa lalu. Masa lalu indah yang membentuk jiwa kuat-ku sekarang.

Karena aku tahu akhirnya aku tak dapat berbicara tentang banyak hal denganmu seperti sebelumnya. Kali ini boleh kah aku juga memprediksi bahwa sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi milikku akan tetap menjadi milikku. Karena meskipun kemana saja aku kabur dia akan menguntit dibelakangku, mengikutiku untuk nanti mengejutkanku dari depan dan tiba-tiba mencium keningku dengan manis. Aku yakin itu, karena jika kau belum pernah dengar tentang Afirmasi biar kuberi tahu. Sewaktu dipelayaran, Guru Besarku Pak Abdul Basith pernah mengatakan. Bahwa jika kau yakin dengan apa yang kau inginkan maka kau harus membuat sebuah visualisasi yang jelas dan ucapkanlah serta berpegang teguhlah kepada keyakinanmu. Maka itu akan menjadi kenyataan. Tentu saja dengan usaha kerasmu dan doa tentunya.

Jadi aku akan tetap memiliki perasaan itu kepadamu. Untuk selalu berdiri dibelakangmu menyiapkan badan setangguh-tangguhnya karena ketika kau lelah dan ingin terjatuh. Aku yang akan menopangmu sambil memantik api semangat. Karena kau akan jadi orang besar dan aku akan menopangmu selalu dibelakangmu. Jadi, tumbuhlah dengan baik. Dan berjalanlah dengan tegap, Sayangku. Aku dibelakangmu selalu.


20 Februari 2016, Ciantra.

You Might Also Like

0 komentar: