Escape Kepulauan Seribu ( #KembaliKeLaut, 1-2 )

10:48 AM Lovely Bunny 001 0 Comments

 “Saturday morning jumped out of bed
And put on my best suit
Got in my car and raced like a jet
All the way to you..”

Lagu yang indah menemani pagi yang indah, hari ini saya dan teman-teman Laskar Pencari  (Pemuda Indonesia  Cinta Bahari) akan berangkat ke Pulau Tidung, readers  J
Mungkin buat kamu yang tinggal di sekitar Jakarta dan emang punya hobi kelayapan kaya saya apalagi ke laut dan pantai, pasti udah pernah datang ke pulau cantik ini. Tapi kali ini misi kita bukan cuma sekedar jalan-jalan. Saya mengikuti kegiatan para pemuda-pemudi yang tergabung dalam Laskar Pencari ini untuk mengobati rasa kerinduan pada lautan. Maklum, karena besar di wilayah pesisir dan selalu dekat dengan laut jadi begitu migrasi ke kota besar yang akses buat ke lautnya rada’ susah maka rindu saya semakin menggebu-gebu dengan pantai dan air asinnya laut biru serta ikan-ikan penghuninya (hehe, anak pulau ini!) Nah, selain itu. Kegiatan Laskar Pencari ini sesuai dengan ideology saya sebagai pecinta lingkungan bahari. Menyadarkan masyarakat Indonesia untuk semakin mencinta laut Indonesia yang luas dan indah sekali ini tetapi juga tidak lupa untuk menjaga dan merawat keseimbangan ekosistemnya.
Nah, kembali ke topic ( bukan tukul ya, bukan laptop soal e :D )
Ada tiga alternative pelabuhan yang bisa dipakai untuk menyeberang ke kepulauan seribu. Pelabuhan Ancol buat kamu yang banyak duit, karena disana itu tempat parkirannya speedboat dan ferry exclusive buat wisatawan kelas menengah atas. Kemudian, buat kamu yang ingin liburan ala gembel atau BAB (Biasa Aja Biasa banget) bisa naik perahu motor biasa dari Pelabuhan Ikan di Muara Angke dan Muara Kamal. Sedikit inpoh buat kamu yang pengen ke kepulauan seribu tanpa harus menggunakan jasa tour and travel bisa membayar ongkos transportasi sebesar Rp. 35.ooo,- untuk sekali jalan.
Ada hal yang sangat saya sukai begitu kami memasuki gerbang pelabuhan Muara Angke, bau amis khas ikan segar yang menguap di setiap sudut pasar. Khas wilayah pesisir yang biasanya hanya saya dapatkan ketika ikut ibuk belanja di Pasar Ikan Kota Tanjungpinang waktu masih kecil dulu. Orang-orang lalu lalang dengan segala aktifitas jual beli, meskipun sangat disayangkan kebersihan pasar masih kurang terjaga. Genangan air kehijau-hijauan bekas dari tumpahan air bak ikan yang dibiarkan mengeluarkan aroma menyengat meskipun tidak ditambah dengan sampah berserakan seperti khas pasar tradisional lainnya. Sedikit disayangkan.






Saya bersama para ladies di Laskar Pencari


Kamu juga bisa gabung di aksi campaign kita dengan aplut poto kegiatanmu selama dilaut ke twitter @KPN_Today dan kasih hashtag #KembaliKeLaut
Trus, apa aja sih yang kita lakuin di pulau tidung selama 2 hari 1 malam kemarin? Kita panas-panasan, lompat dari jembatan, ditarik, dihempaskan dan dilempar, ngasih sarapan ikan, dan jadi pemulung J
Hari pertama begitu tiba di pelabuhan saya dan semua teman-teman mengendarai sepeda yang sudah kami pesan sehari sebelumnya dari ibu homestay tempat menginap. Sebenernya kita bisa saja tidak menyewa sepeda dan memilih untuk berjalan kaki, tapi mengingat spot strategis dari onjek wisata di pulau itu jaraknya ujung ke ujung mungkin akan sangat memakan waktu untuk pergi ke masing-masing tempatnya. Lagian harga sewanya juga tergolong murah kok. Cuma bayar dua ribu rupiah aja kamu bisa pake sepeda tsb sepuasnya selama berada di pulau tidung ( ya iyalah, masa sepedanya juga mau dibawa pulang! :D )
Kita lagi ditarik, dihempaskan dan dibanting. Ini watersport yang tersedia di pulau tidung. Namanya donat air.



Saya yang pake baju biru, dengan gaya paling tengil :D *roftl
Orang-orang yang berhasil mengalahkan rasa takutnya :)
 Setelah menaruh barang-barang dirumah homestay dan istirahat sebentar sambil menikmati lunch yang telah disediakan oleh ibunya ( saya ga pernah inget mau nanya nama ibunya ) trus kita gowes sepeda lagi ke tanjung timur. Itu tempat objek wisata yang paling kenal seantero pulau tidung, jembatan Cinta. Persepsi miring dari urban mitologi yang ga saya sukai adalah konon katanya kalo yang datang kesana ( Jembatan Cinta ) bawa pasangannya tapi ga terjun dari jembatan ntu kaga bisa dibilang bener-bener cinta ama pasangannya atau ada juga yang bilang kalo kamu, readers  adalah jombol karatan yang belum Sold Out sejak lahir a.k.a jomblo setelah lompat dari jembatan tsb sambil ngucapin nama orang yang kamu suka katanya bakal berjodoh dan everlasting serta blah blah blah beberapa mitos lainnya yang sering saya baca di media internet.
Tapi menurut saya, terjun dari jembatan dengan ketinggian hampir 10 meter tsb bukan tentang doa, pembuktian ataupun ungkapan rasa cinta kamu terhadap seseorang tetapi lebih kepada bagaimana kamu dapat mengalahkan rasa takut didalam dirimu dengan menghadapinya. Saya telah membuktikannya!
Beberapa teman-teman cowok Laskar Pelangi sudah terjun bahkan ada yang sudah terjun dan mengulangi lagi, sementara saya masih berdiri disitu berpikir keras tentang apa yang harus saya lakukan agar berani melompat. Memang kebanyakan orang-orang yang terjun dari jembatan tsb adalah pria dan pada hari itu sayalah si breakthrough karena menjadi perempuan pertama yang melompat dari jembatan, entah saya tidak tahu dengan hari sebelumnya. Awalnya saya merasa sedikit takut tapi kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri, “Ini hanya hal kecil. Saya akan melakukan lebih daripada ini!” Lalu…blushhh..suara air berkecipak hanya itu yang saya ingat setelah saya melangkahkan kedua kaki keudara kemudian saya berenang ke tepian dan…mengulangi sekali lagi! ( ps: ketagihan )
Bagi saya dan beberapa teman lainnya yang sudah melompat dan mengatasi rasa ketakutan ataupun penasaran mereka akan menganggap melompat dari jembatan tinggi itu tidak menakutkan lagi karena mereka telah melakukannya. Tapia da seorang teman kami, Mbak Tarti namanya. Beliau adalah seorang guru di Tangerang yang juga tertarik untuk ikut kegiatan Laskar Pelangi.Tadinya Mbak Tanti inilah yang sounding agar saya dan seorang teman perempuan lagi juga ikut terjun bersama teman laki-laki lainnya tapi justru dialah yang akhirnya paling tidak berani diantaranya kami bertiga, para perempuan di Laskar Pencari.


You Might Also Like

0 komentar: