Escape Jakarta (Mini Part)

1:29 PM Lovely Bunny 001 0 Comments



Alohaaa~
Salam musim panas yang luar binasa dari sudut barat laut Kota Jakarta. Semenjak memutuskan untuk sementara bertapa di kota ini saya selalu menghabiskan weekends (means Sabtu-Minggu) dengan JJS (Jalan-jalan Sendiri) mengelilingi Kota Jakarta. Nah, ini pengalaman kedua saya escaping naik busway kemana-mana. Kali ini saya ke Kota Tua readers, yuk liat-liat doank. Jangan dibaca ya...
Colorful Bycicle yang mencolok dan mengundang perhatian diantara warna-warna klasik bangunan peninggalan Belanda di Kota Tua







 Saya ga tau semenjak kapan di Kota Tua ada jasa penyewaan sepeda ontel, tapi belakangan emang sering liat temen-temen yang pernah mampir kesana pasti selalu poto-poto dengan sepeda ini and accesorisnya itu yang saya suka, selalu padu padan dengan warna sepeda yang mereka sewa. Misalnya readers nyewa yang warna pink nih sepedanya, nah kamu juga dapet topi londo dengan warna senada. Oh iya, harga sewanya Rp. 20.000,- untuk setiap sepeda. Cuman ga tau taksiran waktunya berapa lama. Mungkin sampe kamu pegel ngegowes itu sepeda kali hahaha :D
Museum Bank Indonesia, Kalau teman-teman naik busway tujuan halte kota tua halte tsb tepat berada di seberang dari museum.


 
Yang Didepan saya itu namanya Museum Fatahillah, sejarahnya? Cari di Wikipedia yaa...kepanjangan kalo saya jabarkan di postingan ini hehe

Nah, begitu kira-kira...
Narsis sedikit, narsis...
Sebenernya isi didalam museum tsb tidak terlalu eyecatching bagi saya. Sama seperti museum-museum sejarah lainnya.Barang-barang yang berkaitan dengan si bangunan yang dijadikan museum sendirinya. Barang-barang perkantoran peninggalan Belanda dan ornamen furniture khas Eropa di Jaman Pertengahan serta beberapa patung dan lukisan imitasi dari Napoleon Bonaparte dan Aristotles. Tapi ada dua benda yang unik dan sempat saya abadikan. Satu, sebuah kaca besar yang diletakkan di lantai dua museum, kaca tsb digantungkan agak sedikit condong kebawah menghadap pintu secara langsung sehingga siapapun yang masuk langsung dapat melihat keberadaanya. Saya tidak sempat curiga dengan hal-hal berbau mistis lagipula tidak memikirkannya, for what?!
Dan dua, sebuah patung kecil di belakang museum. Patung perunggu berwujud dewa mitologi yunani, Hermes. Hermes sendiri merupakan dewa langit blah blah blah ...
Hermes.

Iya, saya memang pergi sendirian, dan ini ga minta dipotoin. Lalu gimana caranya? Jangan ditanyakan...

Nah readers, ngomong-ngomong soal jalan-jalan naik busway sendirian ini. Setiap minggu budget saya itu selalu Rp. 50.000,- ga pernah kebih karena selain hanya jalan sendirian saya ini tergolong CINA (chi-chi Naholitan, Batak=Pelit) yang selalu meminimalisir pengeluaran dan memaksimalkam kesenangan. Jadilah pada wkatu itu saya naik busway dengan cara yang biasa donk beli karcis di loket salah satu halte busway Jakarta Barat. Ga pernah kepikiran kalo pulangnya saya bakal kena suatu masalah. Pffh, sempet kesel, tapi jiwa traveler saya emang selalu minta ditantang.

Meskipun pulangnya saya harus nyasar sampe ke Tol Karang Tengah dan hampir nyampe ke Tangerang tapi ini adalah suatu pengalaman luar biasa bagi saya, dan juga sebuah pelajaran. Pelajarannya adalah, kalau tinggal di kota besar rajin-rajinlah update informasi. Seharusnya saya sudah tau kalau semenjak 19 Agustus 2014 Pemerintah Jakarta memberlakukan pembayaran via e-Card untuk naik busway mulai dari stasiun Kota Tua sampai Blok-M, dan saya belum tau itu. Walhasil pulangnya saya keribetan donk, mana uang di saku tidak cukup lagi untuk beli e-Card yang harganya Rp. 40.000,- Tadinya pikiran saya buntu kemudian teringat rute busway yang tadi saya lewati tidak jauh dari Halte Kota Tua.
Berjalanlah saya ke Halte Busway Sawah Besar dengan harapan disana masih belum diberlakukan e-Card untuk pembayaran tiket. Ah, malang tak dapat ditolak, karena memang saya sangat-sangat lugu dengan sistem kota besar ini. Kemudian si mas yang jaga haltepun menjelaskan seperti yang diatas. Lobi punya lobi, Nona Sari yang cantik ini bisa masuk juga ke dalam busway demi apapun caranya yang tidak akan saya share dengan menjaga nama baik si abang penjaga halte tsb. (wkk, maap bang!)
Eh, begonya saya itu ga cuman sampe disitu readers, ibarat kata pepatah. Malu bertanya sesat naik busway, seharusnya saya juga sudah tau kalau rute terakhir dari buswaynya adalah Blok-M dan kalau mau ke arah Jakarta Barat seharusnya saya turun di halte pemberhentian sebelum ke Blok-M tapi karena tidak mau bertanya pada si Kang Busway maka jadilah saya menerima malang sendiri. Buat yang bukan orang Jakart, Blok-M itu bukan hanya terkenal dengan pasar barang-barang murahnya aja. Tapi itu merupakan kawasan super blok perkotaan yang didalamnya terdapat gedung perkantoran, mall, plaza, dan stasiun bus. 
Nah, balik ke cerita nyasar tadi. Singkat cerita setelah tersasar dengan sengaja dan juga mendapati bahwa untuk lanjut di stasiun Blok-M juga saya harus membeli e-Card maka jnaiklah saya busway ke arah kebun jeruk. Emang dasar oneng, karena ketiduran didalam bus wkatu si abangnya bilang udah nyampe daerah kebun jeruk saya ga kedengeran akhirnya sampe dibawa ke Tol Karang Tengah yang arahnya ke Tangerang, Banten. Saya panik, gimana caranya bilang sama si mamang bus supaya bisa balik putar arah ke kebun jeruk lagi. Untungnya ada bapak-bapak yang rumahnya di sekitar pom bensin sebelum Kota Tangerang, nah si Bapak yang baik hati dan murah senyum inilah yang memberitahukan kepada saya rute busway dimana saya harus turun ketika sudah sampai di Kebun Jeruk. Jam 2 siang, saya sampai di kosan dengan hati sedikit melompong dan banyak bersyukur kepada tuhan karena mau berbaik hati mempertemukan saya dengan bapak tsb. Kalau tidak mungkin saya sekarang tidak bisa poting cerita bangor ini hahaha *roftl
Pelajaran yah readers, buat kamu yang ga tau jalan jangan pinter-pinteran kaya aku. Banyak tanya biar ga Malu Bertanya Sesat Di Tangerang :D


Oke, sekian cerita norak dan ngaco saya tentang perjalanan yang luar biasa nyeleneh dan oneng. Terima kasih. Jangan dibaca :)

You Might Also Like

0 komentar: