Empedokles, Filsuf Italia Yang Menyerahkan Jiwa Ke Gunung Berapi Etna

5:34 PM Lovely Bunny 001 0 Comments


Bidibimbidipaparampappa…halo readers, kali ini saya mau posting tentang skandal hubungan yang terjalin antara seorang filsuf terkenal dari Italy dengan seorang Nona Manis bernama Etna (Lha?! Kok saya sih…) Hehhehe…(CUT!)

(Kamera, Rolling, Action!) >> Rewind. Kali ini saya akan membahas tentang arti nama Etna yang disandang oleh seorang gadis manis kelahiran 10 September ini. Belum ada yang tau kan apa sih arti nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya ini. Pasti pengen tau donk, ya kan? ya kan? ya kan? ya deehhh…kalo ga ngapain baca?! 

Etna, bukan nama yang sangat Indonesia. Sangat asing, aneh dan ga mengandung makna religius sama sekali (hmh, pantesan!) Bahkan diluar negeri nama ini umumnya dipakai oleh anak laki-laki.  Tapi kalo readers ntar punya kesempatan buat jalan-jalan ke Benua Eropa, sempatin ke negara Italia ya, disana ada sebuah pulau yang namanya Pulau Sisilia. Di pulau tersebut, di kota Catania terdapat sebuah Gunung Berapi yang masih dan akan terus aktif karena selalu mengeluarkan semburan-semburan magma. Tau gak? tau gak? Apa nama gunungnya? Yap! Gunung tersebutlah yang menjadi asal muasal nama saya, Etna Khairullah.


Nah, trus apa hubungan antara Gunung Etna (yang menjadi cikal bakal nama saya) dengan seorang filsuf terkenal dari Italy? Siapa dia dan gimana jalan hidupnya serta apa aja sih teori yang udah berhasil dia kembangkan dalam kegunaannya di bidang ilmu filosofi itu sendiri? Dan, di ujung perjalanan hidupnya yang luar biasa nyeleneh itu, readers bakalan nemuin nama saya disana. Penasara? Begini ceritanya….
(Just Some Random of Old Private Photos Documents)
Empedokles lahir di Agrigentum, pulau Sisilia pada abad ke-5 SM (495-435 SM). Ia berasal dari golongan bangsawan. Empedokles dipengaruhi oleh aliran religius yang disebut orfisme dan juga kaum phythagorean. berdasarkan keterangan dari Aristoteles ia meninggal pada usia 60 tahun dengan menceburkan diri ke kawah gunung Etna.

Empedokles adalah seorang filsuf dari mazhab pluralisme. Menurutnya terdapat empat prinsip dasar dalam kehidupan yang mengatur alam semesta yang dikenal dengan istilah anasir(stoikela). Kemudian prinsip tersebut diadopsi oleh Plato dan muridnya Aristoteles. Air, tanah, api dan udara adalah komponen-komponen alam yang saling berlawanan. Anasir memiliki kuantitas yang sama, tidak berubah dan tidak dapat bercampur melainkan dengan komposisi yang pas.

Kemudian ada dua prinsip-prinsip yang mengatur perubahan-perubahan didalam alam semesta, kedua prinsip tersebut berlawanan satu sama lain. Cinta(philotes) dan benci(neikos) tidak dapat saling terhubung. Cinta berfungsi sebagai penggabung anasir-anasir sedangkan benci berfungsi sebagai pencerainya. Keduanya dilukiskan sebagai cairan halus yang meresapi semua benda lain.

Kejadian menyatu dan bercerai ini dibagi menjadi empat dimensi waktu yang terus berputar-putar:

1. zaman pertama
Cinta dominan dan mngeuasai segala-galanya, alam semesta dibayangkan sebagai sebuah bola dimana anasir tercampur dengan sempurna dan benci dikesampingkan ke ujung.
2. zaman kedua
Benci mulai masuk untuk menceraikan anasir-anasir. sebagian alam semesta dikuasai oleh anasir dan sebagaian lainnya oleh benci. contohnya kematian.
3. zaman ketiga
Apabila perceraian anasir selesai, benci menjadi dominan dan menguasai segala-galanya.
4. zaman keempat
Cinta masuk kembali hingga timbul situasi yang sejajar dengan saman kedua. Apabila cinta menjadi dominan maka zaman pertama akan dimulai kembali.

Empedokles yang pertama kali menemukan bahwa darah sebagai wujud dari campuran paling sempurna keempat anasir adalah bagian yang terpenting dalam tubuh manusia, terutama darah paling murni yang mengelilingi jantung. Pemikirannya memberi pengaruh di dalam bidang biologi dan ilmu kedokteran selanjutnya.

Penyucian” atau Purification salah satu karyanya berbicara tentang perpindahan jiwa  sebagai cara untuk menyucikan diri. Daimon(semacam dewa) adalah istilah yang digunakan oleh Empedokles , dan ia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai wujud daimon yang jatuh karena berdosa dan dihukum untuk menjalani sejumlah perpindahan jiwa selama tiga kali sepuluh ribu musim. Jiwa-jiwa itu berpindah kepada tumbuhan dan ikan-ikan lalu kepada burung-burung dan juga manusia. Jikalau jiwa sudah disucikan, antara lain dengan berpantang makan daging hewan , maka ia dapat memeperoleh status daimon kembali. Inilah yang menjadi penyebab Empedokles menceburkan dirinya sendiri ke kawah gunung berapi Etna di Catania untuk membuktikan kepada pengikutnya bahwa ia adalah benar seorang dewa yang diturunkan ke bumi. Tetapi teori tersebut tetap tidak terbukti karena ia tak pernah kembali lagi semenjak menghilang di kawan gunung berapi tersebut. Hal itu membuat sejumlah pengikut Empedokles kecewa karena harus menelan kenyataan bahwa orang yang selama ini mereka percayai adalah orang yang bodoh. Termasuk Aristoteles yang sengaja datang jauh-jauh dari Athena untuk berguru padanya.
Empedokles

Nah, udah pada mahfum kan gimana ceritanya? Jadi,. saya lah yang secara teknis mengakhiri nyawa si filsuf Italia yang terkenal ini dengan cara yang tragis, huahahaha(tertawa jahat diatas bukit). Eh, enggak ding! Sebenernya Kakek Dokles sendiri lho yang berniat nyeburin dirinya sendiri ke kawah Gunung Saya (Gunung yang pake nama saya maksudnya, jangan mikir macem-macem ya!). Meskipun di akhir masa hidupnya Dokles bertindak di luar akan pikiran normal, tapi teori dan karya-karya besar yang dihasilkannya sangat memepengaruhi bidang keilmuan masa kini. Seperti ilmu kedokteran, kejiwaan(psikologi) ilmu tentang masyarakat (sosiologi) dan ilmu ekonomi serta ilmu agama (teologi).

You Might Also Like

0 komentar: