93 Million Miles (part 2)

11:21 AM Lovely Bunny 001 0 Comments

Get Adobe Flash player

Photo Gallery by QuickGallery.com Setelah kapal menepi di dermaga Benoa, seluruh peserta langsung menuruni kapal dan diadakan penyambutan oleh walikota Denpasar dan beberapa staf. Kemudian peserta dibawa dengan bus pariwisata Provinsi Bali menuju Kantor Gubernur Provinsi Bali yang terletak di pusat Kota Denpasar. Acara penyambutan peserta LNRPB di Kantor Gubernur Bali, Denpasar juga disampaikan beberapa kata sambutan dan ucapan terima kasih oleh bapak (gubernur bali) Setibanya di Kupang, kami akan langsung melakukan homestay oleh karena itu begitu mendarat seluruh peserta langsung di bawa dengan bus menuju Kantor walikota Kupang dan diadakan acara penyamputan langsung oleh Walikota Kupang kemudian seluruh peserta, Dansatgas, Panitia dan Pendamping serta Walikota Kupang menari tarian persahabatan Ja’i bersama-sama di Lapangan Kantor Walikota Kupang. Sebanyak 300 peserta tidak seluruhnya menempati suatu wilayah yang sama melainkan disebar di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Airnona, Kelurahan Abkunase dan Kelurahan Mnutapen. Kantor kelurahan tempat saya homestay di Kupang adalah Kelurahan Airnona. Tidak seluruh peserta ditempatkan dalam suatu daerah melainkan dibagi atau disebarkan ke tiga kelurahan yaitu Kelurahan Airnona, Kelurahan Bakunase dan Kelurahan Manutapen. Peserta LNRPB/KPN delegasi Provinsi Kepulauan Riau dibagi di dua Kelurahan. Tiga peserta bertempat tinggal di Kelurahan Airnona dan satu yang lainnya di Kelurahan Bakunase. Secara khusus pengalaman yang saya alami, keluarga angkat tempat saya menginap dan menjadi bagian keluarga tersebut adalah yang paling berharga dan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Ayah angkat saya, Bapak Daniel D Hurek adalah seorang politikus yang sangat disegani di Kota Kupang karena beliau merupakan seorang Mantan Wakil Walikota Kupang pada periode sebelumnya. Banyak ilmu politik yang beliau bagi dengan saya dan teman-teman satu homestay dengan saya. Begitu juga teman-teman yang di tempatkan si satu RT yang sama dengan saya. Tiga hari bersama keluarga baru dan teman-teman yang selalu bersama-sama dengan saya siang dan malam saya merasa seperti menemukan keluarga baru disana. Ada kenang-kenangan khas yang diberikan oleh para orang tua angkat kami selama di Homestay. Setiap anak laki-laki mendapatkan sebuah kain adat yang ditenun dari beberapa daerah terkenal di Nusa Tenggara Timur dan sebuah topi tenunan dari daun pohon lontar, yaitu topi ti’ilangga. Sementara setiap anak perempuan hanya setiap anak perempuan hanya mendapat selendang yang juga merupakan kain yang di tenun dan memiliki motif berbeda-beda yaitu dari setiap daerah terkenal di NTT, yaitu Flores, Sumba, Timor dan Alor.

Kain tenun khas timor pemberian mama angkat saya ketika homestay di kota kupang
Para anak laki-laki yang juga homestay di sekitar rumah saya mendapat kenang-kenangan topi ti'ilangga dan kain khas dari empat daerah yang terkenal di NTT
Kegiatan yang dilakukan selama di homestay antara lain adalah gotong royong bersama masyarakat membersihkan lingkungan kelurahan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan pengabdian di bidang pendidikan dengan ikut serta dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah terdekat di kelurahan. Setelah itu di adakan bakti social pemberian bantuan alat-alat pendidikan dan alat-alat kebersihan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di hari terakhir homestay kami melakukan kegiatan pembersihan Pantai Lusiana yang terkenal di Kota Kupang sekaligus berlibur dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan.
Singgah di berbagai rute pelayaran, selain melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan program LNRPB/KPN para peserta juga diberikan waktu luang untuk mengenal dan mengunjungi tempat-tempat wisata budaya dan pusat-pusat pariwisata yang terkenal didaerah yang sedang dikunjungi. Ketika tiba di Pulau Bali, setelah melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, kami mengunjungi Museum Diorama Perjuangan Rakyat Bali yang berlokasi tepat di depan Kantor Gubernur Bali.
Museum ini berbentuk bangunan unik yang indah, mirip seperti candi tempat untuk peribadatan umat Hindu. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Bali pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Patung-patung yang memeragakan perlawanan rakyat Bali di masing-masing daerah dibuat serupa mungkin dengan kejadian sebenarnya. Di menara paling atas terdapat sebuah ruang teropong yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di seluruh Kota Denpasar dari atas. Pada saat kami mengunjungi tempat ini banyak turis mancanegara juga yang sedang berkunjung dan mereka bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Suatu kehormatan dapat menjelaskan kepada mereka bahwa tahun ini Indonesia menjadi pusat International Event yang melibatkan pemudanya untuk mempromosikan daerah.
Ketika di Kota Kupang, peserta LNRPB/KPN sempat mengunjungi museum Kota Kupang dan melihat berbagai artefak bersejarah yang disimpan di museum sejak jaman purbakala. Terdapat alat-alat memasak, alat menenun/menjahit, mata uang jaman dahulu dan rangka seekor ikan paus yang pernah tertangkap oleh masyarakat. Disana juga tersimpan berbagai senjata perang yang digunakan oleh rakyat Kupang mulai dari yang tradisional hingga senjata api rakitan.

Meskipun dua kali singgah di Kota Labuhan Bajo, tetapi kami tidak banyak mengunjungi tempat-tempat wisata disana. Selain kegiatan yang padat, Labuhan Bajo adalah pusat dari pariwisata sendiri. Ketika menginjakkan kaki ke kota, diluar kawasan adalah area pariwisata yang penuh pusat perbelanjaan pernak-pernik khas untuk souvenir dan jika ingin pergi ke objek wisata alam akan memakan waktu hampir seharian untuk kesana.

Diorama Perjuangan Rakyat Bali yang terletak tepat di depan Kantor Gubernur Bali


Instagram

You Might Also Like

0 komentar: