Hardiknas Untuk Siapa?

9:24 AM Lovely Bunny 001 0 Comments


Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
Slalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
Berkelahi Pak!, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet... Standing dan terbang
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Lirik lagu Oemar Bakrie ciptaan penyanyi Iwan Fals diatas jika kita perhatikan dengan seksama merupakan potret dunia pendidikan. Tidak banyak yang berubah, selalu ada pisang yang mengkal di setandan pisang yang masak. Ada anak-anak yang tidak 'berhasil' ketika ia lulus dari sekolah. Sistem pendidikan 12 tahun tidak cukup untuk membekali anak-anak bangsa yang cerdas dan selalu ingin tahu untuk bekal menjalani kehidupan yang kompleks ini. Ditambah lagi dengan menurunnya kualitas pendidikan karena orientasi pendidikan belakangan ini hanya berbasis pada 'Lulus/Tidak lulus'.

Sementara kita mulai mengabaikan bagaimana tujuan pendidikan mula-mula di adakan. Tentunya sangat jauh dari harapan Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor pembangunan pendidikan di Indonesia.
Nasib guru yang terabaikan secara tunjangan finansial. Hanya pada masa ini bukan guru pegawai negeri yang sudah mengabdi selama 40 tahun tetapi gajinya masih disunat. Guru honorer mengalami nasib yang menyedihkan ketika pengabdian mereka untuk nencerdaskan bangsa tidak mendapat perhatian. Tunjangan profesi guru sebesar Rp. 1.500.000,- /bulan tidak jadi diperpanjang untuk tahun ini. Otomatis hal tersebut mempengaruhi hasil pendapatan guru honorer karena tunjangan profesi guru memang diperuntukkan untuk guru honorer.

Agus Sapa'at dalam sebuah wawancara langsung di sebuah stasiun televisi mengatakan bahwa salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah mengkualifikasi guru-guru untuk mengajar demi meningkatkan kualitas pengajar di Indonesia.

"Kalau guru sudah tidak mau belajar, berhenti saja mengajar.", begitu Agus mengatakan. Menurutnya, berprofesi guru adalah sebuah panggilan jiwa.  Meskipun kita tahu bahwa kurangnya perhatian terhadap guru honorer berbanding terbalik dengan nasib guru PNS di Indonesia. Tetapi pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menyampaikan pidatonya pada peringatan Hardiknas di kantor Kemendikbud pada tanggal 2 Mei 2013. Pada pidatonya beliau menyatakan permintaan maaf atas segala kekacauan yang terjadi didunia pendidikan Indonesia dan kegagalan pelaksanaan Ujian Nasional 2013.

Tidak perlu mengarahkan telunjuk kepada orang-orang tertentu tetapi kita dapat membantu dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak-anak. Lingkungan yang sehat untuk anak-anak dapat belajar dan mengembangkan dirinya.

Jadi, untuk siapa peringatan Hari Pendidikan Nasional ini? Jawabnya untuk para pendidik, untuk pelajar, untuk kita semua, untuk semua generasi bangsa yang sedang dan akan selalu berusaha untuk memajukan dan mengawasi perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

You Might Also Like

0 komentar: