Pendidikan Berkarakter dan Karakter Pendidik

5:00 PM Lovely Bunny 001 0 Comments


Pendidikanberkarakter di canangkan oleh Kementerian Pendidikan pada Hari PendidikanNasional tanggal 02 Mei 2011 lalu untuk diberlakukan pada setiap sekolah yang ada di seluruh wilayah nusantara. Slogan raih prestasi, junjung tinggi budi pekerti dimaksudkan agar siswa didik tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademisi saja, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai moral yang dinilai mulai memudar belakangan ini. Ide ini memang dirasakan brilian mengingat semakin tingginya angka kriminalitas yang terjadi di Indonesia. Melalui proses pembelajaran, khususnya pembelajaran di sekolah formal, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendewasaan peserta didik.

Sebenarnya konsep pendidikan berkarakter ini sendiri sudah ada sejak dasar prinsip logika ditemukan oleh pasangan guru-murid yang juga merupakan filsuf terkenal, Plato-Aristoteles. Pada 400 tahun sebelum masehi, Plato mengatakan bahwa manusia itu memiliki dua jiwa, yaitu jiwa jasmani dan rohani.

Jiwa jasmani akan mengalami gangguan apabila jiwa rohani tidak melakukan perbaikan-perbaikan dalam kualitas kehidupannya. Sementara bagaimana jiwa rohani melakukan perannya untuk menjaga keseimbangan kehidupan dengan jiwa jasmani adalah manusia mesti menempuh jalur pendidikan. Dengan pendidikan manusia ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih arif, bijaksana, bertanggung jawab, dan kreatif. Dari konsep Plato mengenai jiwa rohni tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi tujuan dari pendidikan adalah meningkatkan kualitas jiwa individu menjadi lebih baik.

Dan sasaran utama dari pendidikan adalah psikologis para peserta didik. Seorang anak kecil yang sedang memperhatikan ibunya menolong nenek-nenek menyeberang jalan sesungguhnya ia sedang berada dalam proses pembelajaran. Seekor keledai yang pernah jatuh di satu lubang maka ia tidak akan mau lagi untuk jatuh di lubang yang sama, maka ia telah belajar. Selama mahluk hidup berusaha untuk menemukan jalan terbaik untuk menjalani kehidupannya dengan cara yang lebih baik maka itu yang disebut dengan pembelajaran.

Jika pendidikan adalah proses pembelajaran yang meniru atau mengikuti, maka kemudian pendidik adalah aspek utama yang berperan dalam bagaimana tujuan dari suatu pendidikan dapat tercapai. Pendidik dan anak didik adalah dua variabel memiliki korelasi yang kuat sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Maka jika ingin pendidikan berkarakter berhasil mencapai tujuannya,
karakter pendidik juga harus menjadi perhatian.

Sebagaimana sebuah pepatah lama yang sering kita dengar, guru kencing beridiri murid kencing berlari. Maka dapat kita ambil pelajaran bahwa murid akan selalu mengikuti tingkah laku pendidiknya. Segala apa yang dilakukan oleh pendidik menjadi contoh bagi anak didiknya. Jika baik perilaku yang diperlihatkan oleh pendidik maka akan baik pulalah perilaku anak didiknya.

Sifat/ciri pendidik mestilah berilmu, bertanggung jawab, berkeinginan besar, konsisten, baik dan jujur. Menjadi guru atau pendidik bukan hanya sekedar sebuah status dan pekerjaan tetapi juga menuntut sebuah profesionalitas. Panggilan jiwa untuk menjadi bagian dari orang-orang yang akan mencerdaskan bangsa dan bertanggung jawab penuh terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan terhadap anak didiknya. Guru harus memiliki jiwa yang mengerti akan kebutuhan pendidikan terhadap anak didiknya, pendidikan bukanlah hanya sekedar bagaimana mendapatkan nilai akademisi yang baik di sekolah, menjadi juara dan pulang sebagai pemenang kompetisi pendidikan. Tetapi, menjadi pendidik untuk mengubah pola perilaku anak didik menjadi lebih baik.

Apabila guru dan tenaga pendidik masih memiliki paradigma bahwa pembelajaran adalah bagaimana siswa dapat berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan di lembaga pendidikan, maka mari kita lihat bagaimana proses pembelajarannya. Jika seorang anak dengan fasilitas lengkap yang disediakan oleh orang tuanya serta mendapatkan banyak pengayaan pelajaran dari lembaga kursus diluar sekolah dan menjadi juara kelas berturut-turut tapi tidak memiliki kepekaan social terhadap teman sekelasnya yang setelah pulang sekolah menghabiskan waktu utuk menjual Koran di lampu lalu lintas. Maka sesungguhnya tujuan dari sebuah pendidikan belum mengena kepada anak tersebut. Jika masalah pendidikan yang dihadapi pemerintahdirasakan sangat pelik  sekarang ini adalah karena pemerintah hanya melihat dari satu sisi terhadap kualitas peserta didik di Indonesia. Bangsa ini tidak mungkin hanya mencapai sebuah keberhasilan berdasarkan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan-pengetahuan. Jika banyak murid yang gagal dalam Ujian Nasional dari tahun ke tahun, perhatikanlah semua anak dilahirkan pintar tapi tidak seluruhnya mampu menangkap pelajaran dengan maksimal. Yang diperlukan disini adalah penanaman dasar dari suatu pendidikan itu kepada peserta didik terlebih dahulu, persiapan mental mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat. Bagaimana menjadi insani yang lebih baik didalam kehidupannya.

Maka, tidak perlulah pemerintah terlalu sibuk mengganti-ganti atau merevisi serta menaikkan standar kurikulum pelajaran di setiap periode pemerintahan yang baru. Hal ini hanya akan menambah beban peserta dan para tenaga pendidik. Mereka akan terus memeras keringat mengejar ketertinggalan penguasaan materi pembelajaran, hari-hari dunia pendidikan akan terus di isi oleh bagaimana tenaga pendidik mampu membuat anak didiknya menguasai seluruh pelajaran yang ditetapkan. Tapi bukan untuk menjadikan anak didik lebih berkualitas dalam menaati nilai-nilai moral dan berperilaku yang baik dimasyarakat.

You Might Also Like

0 komentar: