Juvenal Deliquency, Akibat Dari Kontrol Masyarakat Yang Lemah

8:14 PM Lovely Bunny 001 0 Comments

kenakalan remaja 
Belakangan ini banyak terdengar berita penyebaran video-video kekerasan yang pelaku utamanya adalah remaja. Dunia kekerasan seolah-olah menjadi suatu kewajaran dalam pergaulan remaja. Bagaimanapun, remaja yang melakukan dan mengalami kekerasan adalah bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat juga berkaitan dengan perilaku menyimpang ini.
Kasus kekerasan yang populer dilakukan oleh remaja antara lain tawuran antar pelajar, aksi bullying, pelecehan seksual dan premanisme. Sedangkan kasus kenakalan remaja lainnya disumbang oleh kasus pergaulan bebas/free sex, pencurian dan penyalahgunaan obat-obatan. Pada tahun 2011, menurut  Komnas PA jumlah kasus kekerasan terhadap remaja meningkat 98 persen. Pada tahun 2010 terdapat 1.234 laporan kemudian menjadi 2.386 laporan mengenai kekerasan yang dialami remaja. Data Komnas anak untuk laporan kasus tawuran pelajar pada tahun 2011 sebanyak 339 kasus, untuk pelecehan seksual sebanyak 1.858 kasus dan kasus pergaulan bebas yang dilakukan remaja rata-rata 63% dari remaja putri diseluruh Indonesia telah melakukan free sex.
          Kasus kekerasan pada remaha
          Kekerasan yang terjadi pada remaja, terutama yang dilakukan oleh remaja terhadap sesama rekan sebaya digolongkan kedalam kenakalan remaja. Kenakalan remaja atau Juvenal Deliquency adalah perilaku dan tindakan remaja yang mengarah kepada kekerasan, pelanggaran norma-norma susila dan pengabaian sosial. Kenakalan remaja juga termasuk kedalam bahasan perilaku menyimpang yang dipelajari di mata kuliah Sosiologi Menyimpang.
          E Sutherland menjelaskan bahwa perilaku menyimpang merupakan proses yang dialami remaja yang dihasilkan dari proyeksi dirinya terhadap apa yang terjadi pada masyarakat di sekitarnya. Perilaku menyimpang dapat dipelajari secara negatif dan bukanlah sebuah warisan genetik karena ini adalah hasil interaksinya dengan masyarakat, yang artinya perilaku menyimpang tidak menular melalui keturunan.
          Robert K Merton juga menjelaskan bahwa perilaku menyimpang adalah hasil dari suatu kelompok atau orang-orang yang berusaha untuk melanggar aturan-aturan yang diberlakukan didalam suatu struktur sosial.
          Sedangkan Cohen memfokuskan perhatian terhadap remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri. Remaja tidak mendapatkan tempat di masyarakat diakibatkan oleh perbedaan dalam struktur sosial.
          Sebenarnya bahasan teori Merton dan Cohen hampir sama, yang membedakan hanyalah Cohen mengamati lebih dari sisi psikologis remaja dalam mengahadapi masyarakat disekitarnya. Tetapi, persamaan pemahaman para ahli diatas adalah umumnya perilaku menyimpang yang dilakukan remaja merupakan bentuk refleksi dari perlakuan masyarakat terhadap mereka.
          Masyarakat, bagaimanapun merupakan agent of social controlle yang bertugas memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap perubahan diri remaja. Jalan utama untuk memberikan pengarahan tersebut adalah melalui pendidikan. Pendidikan sebagai proses pembelajaran bagi remaja berperan aktif untuk membentuk kepribadian remaja. Remaja memperoleh pendidikan melalui jalur pendidikan formal dan non-formal.
          Jalur pendidikan formal antara lain adalah sekolah-sekolah, lembaga kursus dan lembaga keterampilan. Sedangkan lembaga pendidikan non-formal adalah keluarga, teman sebaya dan lingkunngan sekitar yang merupakan bagian dari masyarakat yang mempengaruhi bagaimana pola perilaku remaja terbentuk.
          Keluarga sebagai agen sosialisasi primer bertugas mengenalkan kepada remaja tentang bagaimana dan apa peran-peran yang akan dijalankan seorang remaja di masyarakat nantinya. Remaja belajar dan melihat pola interaksi yang ada didalam keluarganya kemudian menerapkan pola ini didalam masyarakat dimana ia berada.  Bagaimana remaja diperlakukan di keluarganya akan menjadi refleksi terhadap tingkah lakunya di masyarakat. Jika seorang remaja yang tumbuh didalam lingkungan keluarga yang kerap bersinggungan dengan kasus kekerasan didalam rumah tangga secara tidak langsung mempelajari bagaimana kekerasan dilakukan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan diluar keluarga. Contohnya dalam lingkungan teman sebaya.
          Lingkungan teman sepermainan yang telah terkontaminasi oleh tindakan kekerasan yang dilakukan oleh remaja tersebut akan menimbulkan pola perilaku menyimpang di masyarakat. Khususnya pada masyarakat yang masih memegang norma kesusilaan yang tinggi. Disinilah masyarakat berperan dalam mencegah dan menghambat agar kasus kekerasan tidak menyebar luas dan menjadi suatu tradisi didalam masyarakat.
          Dalam sewajarnya, perilaku menyimpang merupakan perbuatan yang melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Tetapi apabila tindakan kekerasan yang dilakukan remaja ini terjadi secara berulang-ulang kemudian menjadi sesuatu yang dinetralkan oleh masyarakat tanpa adanya penolakan, secara tidak langsung kekerasan tersebut telah menjadi suatu kewajaran. Tentunya kita tidak ingin menjadi suatu masyarakat 'bobrok' yang membiarkan kekerasan mendarah daging didalam masyarakat kita. Terutama apabila dilakukan oleh remaja yang merupakan calon pemeran kehidupan bermasyarakat selanjutnya.
          Semua perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, termasuk tindakan kekerasan, tidak semata-mata ditangani dengan memberikan tindakan pidana berupa sanksi-sanksi hukum. Hal ini seharusnya menjadi perhatian masyarakat yang merupakan tempat dimana remaja tinggal, karena sebenarnya perilaku menyimpang adalah hasil miss-interaction antara remaja dan masyarakat maka sewajarnya kita membantu remaja untuk menemukan jalan yang benar dalam proses pencarian jati dirinya. Remaja yang sedang 'melawan arus' ini tidak bisa kita paksa untuk berubah drastis seperti apa yang kita harapkan, tetapi kita dapat mengarahkan mereka sejak dini. Memberikan bekal pendidikan rohani yang kuat serta penanaman nilai-nilai kasih sayan terhadap mereka akan menumbuhkan kepribadian yang kuat sehingga gangguan yang berasal diluar diri mereka tidak akan dengan mudah mempengaruhi mereka utuk melakukan tindakan yang menyimpang
 
 

Oleh: Etna Khairullah.

You Might Also Like

0 komentar: